Kontroversi Ridwan Saidi: 'Sriwijaya Bajak Laut' Hingga 'Kerajaan Galuh Brutal'

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Jumat, 14 Feb 2020 15:38 WIB
budayawan Betawi Ridwan Saidi
Foto: Ridwan Saidi (Ari Saputra)

2. Sebut 'Tarumanegara Fiktif'

Masih dalam video yang sama, Ridwan Saidi juga berbicara soal Kerajaan Tarumanegara. Sama seperti Kerajaan Sriwijaya, Babe juga menyebut Kerajaan Tarumanegara itu fiktif.

"Tarumanegara, yes fiktif, fiktif berat. Itu adalah kesalahan arkeolog terutama Poerbatjaraka yang dianggap mbahnya arkeolog. Dia mengira prasasti-prasasti yang ada di Jawa bagian barat, Jakarta saya masukkan Jawa bagian barat, dan Jawa Tengah itu berbahasa Sanskerta dan beraksara Palawa. Dia salah. Itu adalah berbahasa Hindi-Khmer. Jadi tebak-tebakan Poerbatjaraka ngawur sama sekali ketika dia mentarjamah Prasasti Sukapura, Tanjung Priok," kata Ridwan Saidi sebagaimana dilihat detikcom.

Ridwan Saidi menyoroti Tarumanegara, kerajaan menyebut prasasti yang ditemukan di Tanjung Priok Jakarta sebagai Prasasti Sukapura. Namun, prasasti yang ditemukan di Tanjung Priok bernama Prasasti Tugu. Prasasti tugu dipahatkan pada batu andesit berbentuk bulat telur dengan tinggi 1 meter. Tulisan pada prasasti ini berjumlah 5 baris, beraksara Pallawa, berbahasa Sansekerta.

Arkeolog Universitas Indonesia (UI) Ninny Soesanti Tedjowasono menjelaskan kepada detikcom perihal prasasti ini. Sebagai seorang epigraf (ahli membaca prasasti dan tulisan kuno), Ninny memastikan bahasa yang digunakan di Prasasti Tugu adalah berbahasa Sanskerta, bukan berbahasa Hindi-Khmer seperti yang dikatakan Ridwan Saidi.

"Saya epigraf dan mengerti Bahasa Sanskerta. Sangat jelas Prasasti Tugu berbahasa Sanskerta dengan Akasara Pallawa," kata Ninny. "Prasasti Khmer pada Abad ke-6 juga masih berbahasa Sanskerta," sambungnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3