Selain TPPU, Kejagung Juga Gali Keterangan Heru Hidayat soal Transaksi Saham

Wilda Hayatun Nufus - detikNews
Selasa, 11 Feb 2020 22:08 WIB
Kasus Jiwasraya, Heru Hidayat Mulai Diperiksa Sebagai Tersangka
Foto: Tersangka kasus Jiwasraya, Heru Hidayat (Wilda Hayatun Nufus/detikcom)
Jakarta -

Heru Hidayat diperiksa perdana oleh Kejaksaan Agung (Kejagung) sebagai tersangka dalam kasus Jiwasraya. Heru diperiksa untuk ditelusuri transaksi saham dan perusahaan sekuritasnya, selain menggali kemungkinan adanya unsur tindak pidana pencucian uang (TPPU).

"Kami dalami terkait semua terjadi tindak pidana korupsi, karena kan transaksi. Nah karena transaksi ini begitu banyak, masing-masing kami konfirmasikan. Banyaknya saham, perusahaan sekuritas, kami pastikan yang terus dihitung temen auditor berapa ujungnya atas transaksi yang dianggap melawan hukum," kata Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus) Kejagung, Febrie Adriansyah.


Hal itu disampaikan Febrie di Gedung Bundar Jalan Sultan Hasanudin, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa (11/2/2020). Febrie mengungkap pihaknya menekankan pada proses audit untuk menghitung kerugian negara.

"Kami kan dalam pengembangan, penerapan pasal kan dari alat bukti. Nah alat bukti ini kan sudah saya sampaikan, kalo Jiwasraya, kental di transaksi investasi. Penelusuran lebih banyak di audit. Dari audit itu lah bisa tahu berapa kerugian, saham apa yang digunakan dan siapa yang terlibat," terang Febrie.


Sebelum Heru Hidayat, Kejagung lebih dulu memeriksa tersangka Benny Tjokrosaputro sebagai tersangka kasus Jiwasraya pada Senin (10/2). Keterangan Benny akan dicocokkan dengan keterangan tersangka lainnya.

Diketahui, dalam kasus Jiwasraya, Kejagung telah menetapkan 6 tersangka, yaitu Benny Tjokro, Komisaris PT Hanson International Tbk; Heru Hidayat, Presiden Komisaris PT Trada Alam Minera (Tram); Hendrisman Rahim, mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero); Hary Prasetyo, mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero); Syahmirwan, mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero); serta terakhir Direktur PT Maxima Integra bernama Joko Hartono Tirto.


Untuk sangkaan korupsi, para tersangka itu dijerat dengan Pasal 2 ayat 1 dan Pasal 3 UU Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

(aud/aud)