Dakwah dan Kiprah Mohammad Natsir, si Perdana Menteri dengan Mobil Jelek

Puti Yasmin - detikNews
Kamis, 06 Feb 2020 19:48 WIB
Bedah Buku ‘Mohammad Natsir’ oleh Parmusi di Kuningan, Jakarta, Kamis (6/2/2020)
Bedah buku, Mohammad Natsir pada Kamis, 6 Februari 2020 (Foto: Puti Aini Yasmin/detikcom)
Jakarta -

Perdana Menteri ke-5 RI Mohammad Natsir dikenal juga sebagai ulama di Indonesia. Kecintaannya terhadap agama Islam juga ditunjukkan melalui jalan dakwah.

Menurut Penulis Buku 'Mohammad Natsir' Lukman Hakiem, ia memiliki cara unik dalam berdakwah. Bahkan hal itu membuka mata semua orang bahwa dakwah bukan hanya sekadar kata-kata.

Diketahui, Mohammad Natsir biasa berdakwah dengan perbuatan teladan yang bisa dicontoh. Misalnya, menyumbang kertas agar dimanfaatkan sebagai catatan.

"Dia membuka pandangan orang bahwa dakwah bukan hanya pidato tapi luas. Misalnya orang menyumbang kertas untuk catatan itu dakwah. Jadi bukan hanya ucapan, kata-kata tapi perbuatan teladan," ungkap Lukman Hakiem kepada detikcom di Kuningan, Jakarta, Kamis (6/2/2020).

Selain itu, Mohammad Natsir juga dikenal sebagai pribadi yang sederhana. Terbukti saat ia ditawari sebuah mobil mewah oleh seorang pengusaha asal Medan tetapi ia menolaknya. Ia menilai, mobil yang saat itu ia miliki sudah cukup untuk membawa dirinya serta keluarganya.

"Pengusaha asal Medan kasihan lihat Natsir padahal ketua partai besar, bekas Perdana Menteri kok mobil jelek, kusam. Nah pengusaha itu ingin kasi mobil mewah jaman itu tapi ditolak dan dia bilang ini sudah cukup," sambung dia.

Terakhir, Mohammad Natsir juga diketahui menggunakan fasilitas negara dengan bijak. Hal itu terlihat kala ia berhenti dari jabatannya sebagai Perdana Menteri. Mohammad Natsir diketahui mengembalikan mobil serta meninggalkan rumah dinasnya tepat jabatannya selesai.

"Saat berhenti jadi perdana menyeri mobil dinas dia taruh dan pulang bonceng sopirnya naik sepeda dan keluar dari rumah dinas padahal undang-undang memperbolehkan," tutup Lukman.

Mohammad Natsir Bubarkan Negara Bagian Kembalikan Bentuk NKRI

Semasa hidupnya Mohammad Natsir pernah berjuang menyatukan Indonesia. Saat menjabat Perdana Menteri ke-5 dia memperjuangkan agar Indonesia lepas dari bentuk Republik Indonesia Serikat (RIS). Hasilnya Indonesia kembali ke bentuk Negara Kesatuan RI.

Menurut Lukman, bentuk negara Indonesia adalah Republik Indonesia Serikat (RIS) muncul demo di sejumlah daerah. Rakyat menolak bentuk negara bagian. "27 Desember atau 29 Desember, Indonesia menjadi negara bagian tetapi tanggal 4 Januari di Malang sudah ada demo, di mana-mana demo. Artinya, rakyat tidak suka jadi negara bagian. Islam kan rahmat bagi semua orang," kata Lukman.

Mohammad Natsir pun bertindak. Dia mengajukan mosi integral ke parlemen RIS, meminta negara bagian dibubarkan. Mosi yang diajukan Mohammad Natsir dapat diterima semua parlemen. Akhirnya, Indonesia lepas dari negara bagian dan menjadi Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

"Akhirnya disepakati semua negara bagian membubarkan diri dan bersama-sama membentuk negara baru NKRI. Peran Mohammad Natsir dalam mengajukan mosi integral di parlemen RIS dan didkung semua fraksi termasuk PKI," tutup Lukman.

(pay/erd)