Muncul Gejala Fanatisme Pendukung Anies vs Risma, Ada Apa Ini?

Danu Damarjati - detikNews
Selasa, 04 Feb 2020 16:44 WIB
Ilustrasi Anies Baswedan dan Tri Rismaharini (Repro detikcom)
Ilustrasi Anies Baswedan dan Tri Rismaharini (Repro detikcom)

Direktur Eksekutif Lembaga Survei Kelompok Diskusi Kajian Opini Publik Indonesia (KedaiKOPI), Kunto Adi Wibowo, memberikan telaah yang lebih jauh. Bila Rico Marbun menarik fanatisme pendukung Anies vs pendukung Risma sampai Pilpres 2019, Kunto menarik akar fanatisme ini bahkan sampai Pilpres 2014.

"Kampret sudah berevolusi jadi kadrun, cebong-pun juga sudah berevolusi. Ini adalah drama Cebong vs Kampret Season 3," kata Kunto.

Fanatisme ini terbentuk karena saking serunya Jokowi dan Prabowo bersaing di Pilpres. Meski Jokowi dan Prabowo sudah berrekonsiliasi, namun fanatisme di kalangan pendukung sudah kadung meresap ke relung-relung ruang bawah sadar masyarakat. Isu politik sudah masuk ke isu identitas.

"Ini bukan hanya masalah gagasan, tapi sudah masuk ke isu identitas. Ini seperti kanker, seperti virus, ini bukan virus corona tapi virusnya susah dihilangkan meski Jokowi dan Prabowo sudah akur," kata dia.

Asumsi yang mendasari persaingan ini adalah pengalaman politik Gubernur DKI pendahulu Anies, yakni Jokowi sendiri. Seolah-olah, seorang tokoh yang sudah menduduki kursi Gubernur DKI bakal langsung lanjut ke kursi Presiden RI. Maka pihak yang bukan pendukung Anies berpikir, harus ada sesuatu yang menghalangi sejarah itu terulang kembali.

"Antitesisnya adalah Risma. Keduanya sama-sama kepala daerah meski berbeda level, namun Surabaya dan Jakarta adalah dua kota besar di Indonesia. Terlebih lagi dua orang ini berasal dari dukungan partai berbeda," kata Kunto.

Muncul Gejala Fanatisme Pendukung Anies vs Risma, Ada Apa Ini?Direktur Eksekutif Kedai KOPI, Kunto Adi Wibowo (Situs Kedai KOPI)

Halaman

(dnu/fjp)