Antisipasi Karhutla, BRG Siapkan Infrastruktur Pembasahan Gambut

Muhammad Faisal Javier Anwar - detikNews
Rabu, 29 Jan 2020 19:33 WIB
Kepala BRG Nazir Foead.
Kepala BRG Nazir Foead. (Faisal Javier/detikcom)
Jakarta -

Badan Restorasi Gambut (BRG) menyiapkan sejumlah langkah untuk mengantisipasi karhutla. Kepala BRG Nazir Foead mengatakan pihaknya sedang menyiapkan belasan infrastruktur untuk melakukan rekayasa pembasahan gambut.

"Dari SK Menteri tentang lingkungan neraca air tentang lingkungan gambut sedang kita geluti bersama kalau KLHK (Dirjen) PPKL dan juga pakar gambut dan dibantu (Kementerian) PUPR itu menghitung KHG (Kesatuan Hidrologi Gambut) yang harus dibasahi dan bergantung ekosistem," kata Nazir kepada wartawan di Balai Kartini, Kuningan, Jakarta Selatan, Rabu (29/1/2020).

Nazir berharap upaya pembasahan gambut ini juga diikuti pihak swasta. Dia mendorong pengusaha membuat rencana pemulihan di lahan masing-masing.

"Mereka kan membuat rencana pemulihan diserahkan ke KLHK, nanti ketika per ekosistem keluarnya Permen kemarin itu kemungkinan saja saya melihat harus ada penyesuaian pemulihan perusahaan," kata Nazir.

Selain itu, BRG juga menyiapkan 19 infrastruktur untuk merekayasa pembasahan lahan gambut. Infrastruktur tersebut terdiri dari sumur bor dan sekat kanal.

"Jadi total tuh ada 19 ribu sekian (unit) hingga akhir 2019. Walaupun jumlahnya tidak bisa terlalu banyak tapi alhamdulillah dibantu PU menganggarkan anggaran lumayan," jelas Nazir.

Lebih lanjut, BRG juga memantau lahan gambut melalui sistem Peatlans Restoration Information Monitoring System (PRIMS). Sistem tersebut terhubung dengan satelit Lapan.

"Tadi kita harus memantau betul-betul dari Lapan setiap minggu ada citra satelit. Kita harus melihat mana saja indikasi ada pembukaan baru, karena bukaan (lahan) baru ini biasanya akan dibakar saat kemarau. Nah ini jangan sampai dibakar, sambil melihat perkiraan BMKG perkiraan hujan," jelas Nazir.

Nazir menuturkan pihaknya tak menutup kemungkinan menerapkan Teknologi Modifikasi Cuaca (TMC) melalui mekanisme hujan buatan. TMC nantinya akan menyesuaikan dengan intensitas musim kemarau.

"Itu kan tergantung musim kemarau, kalau Februari-Maret ini kemarau sudah ada ya. Tapi sih saya perkirakan yang banyak (kemarau) di bulan Juli," kata Nazir.

(idn/idn)