Sekilas Kawasan Monas: Dari Zaman Bang Ali sampai Anies Baswedan

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Kamis, 23 Jan 2020 13:31 WIB
Proses revitalisasi Monas, puluhan pohon ditebang (Rifkianto Nugroho/detikcom)
Jakarta -

Kawasan Monumen Nasional (Monas) sedang dalam proses revitalisasi. Rencana revitalisasi ini sempat menuai polemik setelah status perizinannya dipersoalkan. Sebelum persoalan ini mengemuka, ternyata kawasan Monas punya sejarah perkembangan yang patut disimak.

Monas merupakan tugu yang dianggap melambangkan keperkasaan perjuangan bangsa Indonesia. Sebagaimana dikutip dari laman Jakarta.go.id, tugu yang terletak di tengah lapangan Merdeka, yang salah satu bagiannya, yakni lapangan Ikada, pernah digunakan oleh Soekarno-Hatta sebagai tempat rapat raksasa rakyat untuk mengusir penjajah.

Dalam membangun Monas, proklamasi 17 Agustus 1945 dijadikan simbol yang dituangkan dalam wujud tugu agar rakyat selalu bisa mengenang peristiwa bersejarah itu. Pelaksanaan pembangunan Monas dimulai pada 17 Agustus 1961 oleh Panitia Monas. Dengan mengambil perencanaan, konstruksi, dan material lokal, juga bantuan luar negeri dari Jepang, Jerman Barat, Italia, dan Prancis.

Pembangunan dilaksanakan dalam dua tahap. Pertama, dilaksanakan Panitia Monumen Nasional yang diketuai Presiden RI. Tahap kedua dimulai pada 1969 dan dilaksanakan oleh Panitia Pembina Tugu Nasional berdasarkan Keppres No 314 Tahun 1968 yang diketuai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI dan selesai pada 1975.

Monas terbagi atas beberapa bagian, yakni Pintu Gerbang Utama, Ruang Museum Sejarah, Ruang Kemerdekaan, Pelataran Cawan, Puncak Tugu, Api Kemerdekaan, dan Badan Tugu. Seluruh ukuran yang terdapat dalam Tugu Nasional sudah disesuaikan dengan angka keramat 17-08-1945, yang merupakan hari kemerdekaan Indonesia. Dalam perkembangannya Monas merupakan titik pencar perkembangan wilayah Kota Jakarta. Hal ini dimaksudkan agar diketahui jelas mengenai bentuk dan arah perkembangan kota Jakarta agar terjadi perkembangan wilayah kota yang seimbang sesuai dengan 'Rentjana Induk (Master Plan) DCI Djakarta 1965-1985'.

Pernah Jadi Lokasi Jakarta Fair

Berdasarkan catatan dokumen Indonesian Visual Art Archive, pada masa kepemimpinan Gubernur Ali Sadikin (1966-1977), kawasan lapangan Monas pernah dimanfaatkan untuk tempat pesta rakyat tahunan yang dikenal dengan Jakarta Fair. Jakarta Fair ketika itu menempati bagian selatan lapangan Monas, tepat di depan Balai Kota. Kebijakan gubernur yang akrab disapa Bang Ali ini pun dianggap sebagai kebijakan yang berpihak pada rakyat ketika itu. Namun, pada masa Gubernur Wiyogo (1987-1992), Jakarta Fair yang sudah 20 tahun berlangsung di lapangan Monas dipindahkan ke kawasan bekas bandar udara Kemayoran.

Pemagaran Monas dan Penanaman Pohon

Pada 2002, ketika kondisi politik nasional makin memanas menjelang Pemilu 2003, Gubernur Sutiyoso memutuskan memasang pagar keliling setinggi 4 meter dengan biaya Rp 9 miliar. Alasannya untuk menertibkan pedagang asongan dan kaki lima yang menjamur di dalam lapangan Monas.

Berbagai protes sempat datang bertubi-tubi. Akibat dari pemagaran itu, Lapangan Merdeka yang ditinggalkan menjadi lahan kosong, lalu menjadi lahan perebutan untuk, antara lain, parkir Balai Kota yang juga sempat menuai protes masyarakat dan pedagang kaki lima.

Namun Sutiyoso tak hanya melakukan pemagaran. Seperti dicatat Abidin Kusno dan kawan-kawan dalam buku 'Ruang publik, identitas, dan memori kolektif: Jakarta pasca-Soeharto', Sutiyoso juga memerintahkan perbaikan lingkungan di taman, seperti penapakan jalan, penanaman berbagai pohon, dan penempatan kijang-kijang. Hal ini dilakukan semata-mata untuk memperbaiki citra kawasan Monas agar tampak kian asri.

Simak Video "Monas Gundul Akibat Revitalisasi, Puan: Kembalikan Seperti Aslinya!"

[Gambas:Video 20detik]

Selanjutnya
Halaman
1 2