Skandal Jiwasraya, Kejagung Panggil Saudara Benny Tjokro

Farih Maulana Sidik - detikNews
Kamis, 23 Jan 2020 12:49 WIB
Foto: Rengga Sancaya
Jakarta -

Penyidik pidana khusus Kejaksaan Agung (Kejagung) memanggil 5 orang saksi berkaitan dengan kasus dugaan korupsi di PT Asuransi Jiwasraya (Persero). Salah satu saksi yang dipanggil merupakan saudara dari salah satu tersangka.

"Hari ini 5 saksi diperiksa," ucap Kepala Pusat Penerangan Hukum (Kapuspenkum) Kejagung, Hari Setyono, kepada wartawan, Kamis (23/1/2020).

Berikut nama 5 saksi yang dipanggil tersebut:
1. Achmad Subahan
2. Agung T
3. Dwi Nugroho
4. Teddy Tjokrosaputro
5. Joko Hartono Tirto

Kejagung tidak menyebutkan identitas jelas terhadap para saksi, kecuali untuk Achmad Subahan yang disebut sebagai Manager Accounting and Finance PT Trada Alam Minera (Tram). Selain itu diketahui salah satu nama yaitu Teddy Tjokrosaputro merupakan saudara dari salah satu tersangka kasus tersebut yaitu Benny Tjokrosaputro.

Benny merupakan Komisaris PT Hanson International Tbk. Selain Benny, ada 4 tersangka lainnya yaitu Hendrisman Rahim sebagai mantan Direktur Utama PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Hary Prasetyo sebagai mantan Direktur Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), Syahmirwan sebagai mantan Kepala Divisi Investasi dan Keuangan PT Asuransi Jiwasraya (Persero), dan Heru Hidayat sebagai Presiden Komisaris PT Tram.

Sangkaan pasal pada para tersangka belum disampaikan jelas oleh Kejagung selama ini. Terakhir pada Rabu (22/1) kemarin Direktur Penyidikan pada Jaksa Agung Muda Bidang Tindak Pidana Khusus (Dirdik Jampidsus) Febrie Andriansyah hanya menyampaikan bila para pihak dari Jiwasraya itu melakukan penempatan saham dengan cara melawan hukum.

"Peran ada. Kan jelas kalau AJS (Asuransi Jiwasraya) membeli saham dengan cara melawan hukum. Ini kelompok AJS yang melakukan perlawanan hukum, melakukan investasi ke saham yang tidak liquid. Dengan peristiwa itu menimbulkan kerugian," kata Febrie.

"Siapa yang menikmati? Kan sudah tahu ada pihak swasta BT (Benny Tjokrosaputro) dan HH (Heru Hidayat). Ini kan prosesnya berkembang sesuai alat bukti," imbuh Febrie.

Sejauh ini pula Kejagung sudah melakukan sejumlah penyitaan berkaitan dengan kasus ini. Namun penjelasan rinci mengenai konstruksi perkara belum disampaikan ke publik.

Di sisi lain Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) pernah buka-bukaan mengenai dugaan kesalahan investasi yang dilakukan Jiwasraya. BPK menyebut kesalahan investasi pada saham berkualitas rendah dan reksadana itu menyebabkan Jiwasraya mengalami rugi lebih dari Rp 10 triliun.

Simak Video "PKS-PD Ingin Pansus Jiwasraya, Ketua DPR: Biarkan Komisi VI Bekerja"

[Gambas:Video 20detik]

(fas/dhn)