Eks Ketua Pansel Capim Sebut Kasus Wahyu Setiawan Penipuan, KPK Menepis

Ibnu Hariyanto - detikNews
Senin, 20 Jan 2020 14:30 WIB
Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri menepis Yenti Garnasih yang menyebut kasus suap yang menjerat mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan adalah penipuan (Foto: Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - Mantan Ketua Panitia Seleksi Calon Pimpinan KPK Yenti Garnasih menilai kasus yang menjerat mantan Komisioner KPU Wahyu Setiawan bukanlah suap-menyuap tetapi penipuan. KPK pun terang-terangan menepis pendapat Yenti.

"Saya kira terlalu dini menyimpulkan demikian," kata Plt Juru Bicara KPK Ali Fikri kepada wartawan, Senin (20/1/2020).

Ali menegaskan pengungkapan kasus melalui operasi tangkap tangan (OTT) itu sudah melalui bukti-bukti permulaan yang cukup bahwa terjadi indikasi praktik suap. Kasus ini pun disebut Ali masih dikembangkan untuk menjerat terduga pelaku lainnya.




"Dari bukti-bukti permulaan yang dimiliki sehingga dapat dilakukan kegiatan tangkap tangan kemarin, KPK masih akan terus mendalami dan mengembangkan pada tingkat penyidikan," ucap Ali.

"Tidak menutup kemungkinan untuk meminta pertanggungjawaban pihak lain atas dugaan penyuapan yang melibatkan mantan komisioner KPU tersebut," imbuh Ali.

Wahyu dijerat KPK melalui OTT pada Rabu, 8 Januari 2020. Wahyu lantas ditetapkan sebagai tersangka bersama tiga orang lainnya yaitu Agustiani Tio Fridelina, Harun Masiku, dan Saeful. KPK menduga Wahyu dan Agustiani adalah penerima suap, sedangkan pemberinya adalah Harun dan Saeful.

Eks Ketua Pansel Capim Sebut Kasus Wahyu Setiawan Penipuan, KPK MenepisMantan Ketua Pansel Capim KPK Yenti Garnasih (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)


Kepentingan suap itu berkaitan dengan pengurusan pergantian antar-waktu (PAW) anggota DPR dari PDIP. Harun sebagai caleg PDIP bersama Saeful diduga menyuap Wahyu dan Agustiani untuk memuluskan niat Harun menggantikan anggota DPR dari PDIP yang meninggal dunia yaitu Nazarudin Kiemas. Namun dari keempat tersangka itu hanya Harun yang jejaknya hingga kini masih ditelusuri KPK.

Kasus ini lantas berkembang lantaran sempat ada kabar liar beredar yang bersinggungan dengan kepentingan partai yaitu PDIP. Namun PDIP membela diri dengan menyiapkan tim hukum untuk mengawal persoalan ini.

Selanjutnya
Halaman
1 2