Bertemu Mahfud, Yenny Wahid Bahas Peran Warga Berantas Terorisme

Kadek Melda - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 18:15 WIB
Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid. (Kadek/detikcom)
Jakarta - Putri Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid, Yenny Wahid, bertemu dengan Menko Polhukam Mahfud Md membahas peran masyarakat membantu pemerintah memberantas terorisme. Yenny mengatakan perlu adanya inisiatif dari masyarakat.

"Banyak koordinasi bagaimana peran masyarakat sipil dalam membantu tugas pemerintah untuk menciptakan rasa aman terutama berkaitan dengan aksi-aksi terorisme lalu inisiatif-inisiatif yang bisa dilakukan masyarakat sipil untuk mengisi ruang-ruang yang tidak bisa dimasuki oleh pemerintah. Itu lebih ke arah sana," Kata Yenny usai bertemu Mahfud di Kemenko Polhukam, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (16/1/2020).


Yenny mengatakan terorisme merupakan bentuk kekerasan berbasis ekstremisme yang menjadi ancaman global. Untuk itu, perlu penanganan yang komprehensif antarsemua pihak terkait, termasuk melibatkan masyarakat.

"Kita lihat kan terorisme kekerasan berbasis apa namanya ekstremisme, berbasis kekerasan, itu adalah ancaman global, bukan hanya ancaman negara saja. Tentu penanganannya memerlukan penanganan yang komprehensif. Penanganan yang sifatnya bukan cuma koordinasi antar negara tetapi juga koordinasi dengan sektor antar pemangku kepentingan baik dengan pemerintah maupun masyarakat umum lainnya," ujar Yenny.


Menurut Yenny, Mahfud merupakan sosok yang paham mengenai terorisme. Dalam pertemuan tadi, mereka berdiskusi tentang payung hukum yang memungkinkan adanya koordinasi pemerintah dengan masyarakat sipil dalam pemberantasan terorisme.

"Jadi ada area-area di mana keterlibatan masyarakat sipil belum maksimal. Lalu kita juga menyoroti bagaimana sinergitas antara kementerian lembaga serta masyarakat sipil juga soal data perlu adanya big data, data yang bisa lebih luas bisa diakses banyak pihak sehingga memudahkan adanya sebuah penanggulangan apa bahaya-bahaya yang berkaitan dengan ekstremisme berbasis kekerasan tadi," sambungnya. (idh/idh)