Titah Nyeleneh 'Raja-Ratu' Keraton Agung Sejagat

Tim detikcom - detikNews
Kamis, 16 Jan 2020 07:54 WIB
Foto: Rinto Heksantoro/detikcom

Pengikut Mbalelo Dicap Teroris

'Raja' dan 'Ratu' Keraton Agung Sejagat, Toto Santoso (42) dan Fanni Aminadia (41), menjanjikan kehidupan yang lebih baik kepada para pengikutnya. Sebaliknya, ada ancaman malapetaka bagi para pengikut yang tak mau patuh alias mbalelo.

"Pengikutnya diwajibkan iuran, sampai puluhan juta rupiah, dengan berbekal janji menyebarkan jaminan, paham, apabila ikut dengan kerajaan ini akan terbebas dari malapetaka dan mendapatkan kehidupan lebih baik. Sebaliknya, jika tidak mengikuti atau tidak patuh dengan aturan kerajaan, akan menimbulkan bencana," kata Kapolda Jawa Tengah Irjen Rycko Amelza Dahniel saat jumpa pers di Mapolda Jateng, Semarang, Rabu (15/1/2020).

"Dalam sebaran press release dari pihak kerajaan menyatakan bahwa pengikut-pengikutnya yang tidak mau tunduk dan tidak mau patuh menjalankan semua perintah/kebijakandari Keraton Agung Sejagat dianggap sebagai pembangkang, teroris, dan mendapatkan malapetaka. Sebaliknya, yang mengikuti perintah dan membayar iuran akan mendapatkan kehidupan yang lebih baik," jelasnya.

Aturan Kirab

Keraton Agung Sejagat pernah menggelar kirab budaya di Desa Pogung Jurutengah, Kecamatan Bayan, Purworejo, Jawa Tengah. Selain 'Raja' dan 'Ratu', ada belasan punggawa yang ikut berkuda.

Salah seorang punggawa Keraton Agung Sejagat, Setiyono Eko Pratolo, menceritakan ada perlakuan khusus bagi yang memiliki pangkat dan diperkenankan naik kuda saat kirab.

"Kalau saya jalan, tapi untuk raja, permaisuri, dan yang bintang empat menunggang 15 kuda," kata Eko saat ditemui di Balai Desa Pogung Jurutengah, Bayan, Purworejo, Rabu (15/1/2020).

Eko mengaku sudah memiliki tiga bintang di pundaknya. Namun dia tidak mengetahui detail soal pemberian bintang itu.

Sumarni, seorang warga sekitar menceritakan ada 15 ekor kuda yang digunakan oleh raja, permaisuri dan di belakangnya diiringi oleh pejabat-pejabat keraton yang lain. "15 ekor kuda yang digunakan tapi saya tidak tahu jenisnya," ujar Sumarni, saat ditemui detikcom, Rabu 15/1/2020).

Sepengetahuannya, kuda-kuda itu didapat dari menyewa. Namun dia tidak tahu berapa harga sewa kuda tersebut. "Itu sewa tapi saya tidak tahu berapa harga sewanya," ujarnya.
Halaman

(aan/asp)