Analisis Pakar Penerbangan soal Pesawat Montir Tak Tamat SD

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Rabu, 15 Jan 2020 15:35 WIB
Chaerul (40), warga Pallameang, Kabupaten Pinrang, Sulsel, merakit pesawat ultralight. (Hasrul Nawir/detikcom)
Jakarta - Pesawat ultralight hasil rakitan Chaerul (40) terlihat bisa lepas landas. Namun pesawat ini dinilai belum bisa dikatakan mampu terbang karena level ketinggiannya masih di bawah bentang sayap.

"Ini masih terbang di ground effect, yaitu dengan ada 'bantal' tekanan udara tinggi di bawah sayapnya, karena terbangnya masih di ketinggian di bawah 1,5 kali bentang sayapnya. Kalau sudah bisa terbang benar, itu kalau sudah bisa terbang terus-menerus di luar ground effect, baru bisa dikatakan terbang," kata pengamat penerbangan dari Jaringan Penerbangan Indonesia (Japri), Gerry Soejatman, kepada wartawan, Rabu (15/1/2019).

Dia menjelaskan, ground effect adalah peningkatan gaya angkat dan penurunan gaya aerodinamis yang dihasilkan oleh sayap pesawat ketika dekat dengan permukaan tetap. Saat mendarat, ground effect dapat memberi pilot perasaan bahwa pesawat seperti 'mengambang'.


Kendati demikian, Gerry tetap mengapresiasi kegigihan Chareul dalam merakit pesawat ini. Dia mengatakan pesawat ini bisa terbang dan lepas dari ground effect ketika ada engine power tambahan.

"Namun ini merupakan perkembangan yang bagus bagi si perakit. Sebelumnya kan gagal lepas landas. Paling nggak, sekarang sudah bisa lepas landas, tetapi belum bisa free flight. Kalau bisa ada engine power tambahan lagi kemungkinan sih akan bisa terbang lepas dari ground effect," tuturnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2