Gubernur Sulsel Tinjau Rumah di Takalar yang Ambruk karena Abrasi

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Selasa, 07 Jan 2020 14:53 WIB
Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah meninjau rumah warga di Kabupaten Takalar yang ambruk karena abrasi. (Noval Dwhinuari Anthony/detikcom)
Takalar - Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah meninjau rumah warga di Kabupaten Takalar yang ambruk karena abrasi gelombang air laut. Nurdin memerintahkan jajarannya membuat bronjong penahan air laut.

Nurdin meninjau 2 desa terdampak abrasi gelombang laut, yakni Desa Aeng Batu-Batu, Kecamatan Galesong Utara, dan Desa Mappakalompo, Takalar, Selasa (7/1/2020). Nurdin menerima laporan langsung dari masyarakat soal rumah warga yang ambruk akibat abrasi.

"Untuk langkah darurat kita mengadakan bronjong dengan cepat," kata Nurdin di Desa Mappakalompo.




Saat Nurdin tiba, warga di Desa Mappakalompo tengah berjibaku membuat bronjong darurat dari karung yang diisi kerikil bercampur pasir. Karung berisi pasir tersebut ditaruh di bibir pantai dekat rumah warga yang terancam abrasi.

"Jadi antisipasi (abrasi dengan bronjong darurat) karena memang ini cuaca yang sangat ekstrem," kata Nurdin.


Noval Dwhinuari Anthony/ detikcom/  Gubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah meninjau rumah warga di Kabupaten Takalar yang ambruk karena abrasiGubernur Sulawesi Selatan (Sulsel) Nurdin Abdullah meninjau rumah warga di Kabupaten Takalar yang ambruk karena abrasi. (Noval Dwhinuari Anthony/detikcom)



Nurdin tengah menunggu data dari Bupati Takalar Syamsari Kitta terkait total rumah yang terdampak abrasi, khususnya yang ambruk.

Di desa lainnya yang terdampak abrasi, yakni Desa Aeng Batu-Batu, Takalar Utara, Nurdin menyebut pihaknya bersama Balai Besar Wilayah Sungai Pompengan Jeneberang, Kementerian PUPR, telah mendesain pembangunan tanggul penahan gelombang air laut. Ada sejumlah rumah warga yang ambruk akibat abrasi di wilayah tersebut.

"Jadi ada 2 hal (yang akan dilakukan), kita akan rekayasa, kita akan buat break water kalau pasirnya arahnya vertikal, tapi kalau arah pasirnya horizontal kita akan buatkan tanggul," paparnya.




Sementara itu, warga di Desa Aeng Batu-Batu mengatakan abrasi cukup parah ini terjadi akibat adanya penambangan pasir laut di wilayah mereka.

"Ini sudah lama ini abrasi, tapi tahun ini mi paling parah. Itu di sebelah sana ada ratusan rumah hancur, ada makam yang hilang karena disapu ombak. Ini karena dulu ada perusahaan yang menambang pasir laut di dekat sini," kata Daeng Ngewa saat ditemui detikcom di Desa Aeng Batu-Batu.

Gelombang air laut di pesisir pantai Takalar, Kecamatan Galesong, dan Galesong Utara memang cukup tinggi akibat cuaca ekstrem di musim hujan. Air laut cukup keras menghantam bibir pantai dan rumah warga yang berada di pinggir pantai. (nvl/fdn)