Senangnya Warga Seko: Dulu ke Ibu Kota Luwu Utara 3 Malam, Kini 6 Jam

Noval Dhwinuari Antony - detikNews
Sabtu, 04 Jan 2020 14:10 WIB
Kondisi jalan yang sudah dibuka di Seko, Luwu Utara (Foto: Noval-detikcom)
Luwu Utara - Warga di Kecamatan Seko, Luwu Utara, Sulawesi Selatan (Sulsel) yang dulunya terisolasi kini telah menikmati pembukaan jalur ke wilayahnya. Dulu, warga harus menempuh perjalanan darat hingga 3 malam lamanya untuk ke ibu kota Kabupaten, kini tinggal 6 jam.

"Kami sangat bersyukur sekali dengan terbangunnya jalan ini. Perbandingannya sangat jauh beda sekali waktu belum dibuat jalan seperti sekarang. Waktu belum dikerjakan ini jalan, kadang butuh waktu 3 malam hingga 1 minggu untuk ke Kota Masamba (Ibu Kota Luwu Utara), itu kalau musim hujan," ujar salah seorang warga Seko, Muslimin (50), saat ditemui di rumahnya, Rabu (1/12/2020) lalu.



Berbeda dengan musim hujan, saat musim kemarau perjalanan warga ke Kota Masamba saat itu sedikit lebih ringan. Kondisi jalanan yang kering membuat warga hanya menginap 1 malam di perjalanan.

Muslimin mengatakan perjalanan warga hingga berhari-hari itu bukan ditempuh menggunakan jalan kaki, melainkan menyewa ojek motor yang telah dimodifikasi untuk melintas di medan sulit. Ojek yang disewa dibayar Rp 1 juta 800 ribu untuk tiba di Kecamatan Sabbang atau jalan poros menuju Kota Masamba.

"Dulu itu jalanan dari Kecamatan Rongkong (kecamatan antara Seko dengan Sabbang) itu terowongan semua, itu kan masih ada tiang-tiang yang dibikin orang," ucapnya.

Terowongan yang dimaksud Muslimin ialah terowongan yang terbentuk karena tanah berlumpur terus menerus dilalui motor trail hingga membentuk lubang yang dalam layaknya terowongan. Tak hanya itu, warga juga harus melewati jembatan yang dibuat warga di desa yang dilalui. Setiap jembatan yang dilalui harus dibayar. Hal ini membuat ongkos untuk ke ibu kota kabupaten lebih mahal.

Kondisi jalanan di Seko, Luwu UtaraKondisi jalanan di Seko, Luwu Utara, yang mulai dibangun (Foto: Noval-detikcom)


"Kalau dilewati seluruh jembatan itu bisa sampai Rp 200.000, karena rata-rata 1 jembatan ongkosnya Rp 20.000, ada juga yang 10.000, ada juga yang Rp 5.000, pokoknya bervariasi sesuai dengan panjangnya itu jembatan. Kalau kita ke Sabbang itu bisa lewati puluhan jembatan," jelasnya.

Hal itu kini tak dirasakan lagi oleh warga. Dengan jalur yang sudah terbuka dan digunakan secara fungsional, kini warga hanya membayar ojek hingga Kecamatan Sabbang sebesar Rp 300.000. Waktu tempuhnya pun menjadi lebih cepat.

"Kalau sekarang kan tinggal 5 jam saja. Pengojeknya pun bisa pulang-pergi Seko-Sabbang dalam 1 hari. Kalau dulu itu pengojek bisa 1 minggu di jalan. Jadi kalau sekarang pengojek berangkat pagi-pagi dari Sabbang, tiba di sini jam 10.00 pagi, kembali dan kembali lagi ke Sabbang. Kalau dulu mana bisa," paparnya.

"Jadi kebutuhan dari kota warga menjadi mudah aksesnya. Begitu juga hasil pertanian warga yang menjadi mudah dibawa ke Kota Masamba. Pemasukan warga juga menjadi meningkat," lanjutnya.
Selanjutnya
Halaman
1 2