Polres Jakbar Sita Narkoba Senilai Rp 390 M Sepanjang 2019

Faisal Javier - detikNews
Senin, 30 Des 2019 20:31 WIB
Foto: Faisal Javier
Jakarta - Polres Jakarta Barat menangkap ribuan pelaku narkoba sepanjang 2019. Sejumlah narkoba disita, seperti sabu hingga ekstasi senilai Rp 390 miliar.

"Untuk narkoba pada tahun 2019 kita bisa mengungkap 984 kasus dengan jumlah barang bukti sabu 226,96 Kg, ekstasi 75 ribu butir, ganja, dan sebagainya. Dengan jumlah tersangka 1.254 orang di antaranya anak-anak 2 orang dan ini apabila dirata-ratakan dalam satu hari kami menangkap 3-4 pengedar narkoba," kata Kapolres Jakarta Barat Kombes Hengki Haryadi kepada wartawan di Polres Jakarta Barat, Slipi, Jakbar, Senin (30/12/2019).

Hengki mengatakan, pengungkapan narkoba dalam jumlah yang cukup besar ini karena metode preemtive strike yang dilakukan oleh jajarannya. Polres Jakarta Barat tidak hanya mengungkap narkoba di wilayah Jakarta Barat, tetapi juga ke beberapa daerah.

"Kami banyak menangkap di Jambi, di Lampung dan ini cukup signifikan, karena ini erat kaitannya dengan kejahatan-kejahatan yang ada di Jakarta Barat, jaringannya terkait. Preemptive strike, kami keluar daerah tapi tidak keluar hukum formil, kami berkoordinasi dengan criminal justice system, sehingga bisa kita ungkap," katanya.

Hengki menambahkan, tindakan preemtive strike ini dilakukan untuk mencegah agar narkoba tidak sampai ke kalangan end user.

"Karena apabila barang-barang ini sampai ke Jakarta, tersebar di masyarakat, akan lebih susah lagi, oleh karena kebijakannya adalah menangkap di hulu sebelum menyebar," katanya.

Dengan capaian Polres Jakbar dalam kasus narkoba itu, Hengki mengklaim telah menyelamatkan jutaan jiwa manusia.

"Oleh karenanya kasus-kasus menonjol yang kami peroleh selama 2019, di mana kami bisa menyelamatkan kurang lebih 1.779.819 jiwa dengan nominal Rp 390 milyar kurang lebih," tutur Hengki.







Dari beberapa kasus yang diungkap itu, beberapa di antaranya cukup menonjol. Salah satunya yakni pengungkapan 120 Kg sabu di dalam kontainer di Pelabuhan Bakauheni, Lampung.

"Kemudian sabu seberat 30 Kg di Riau, ini kaitannya dengan Jakbar semua, kemudian pabrik narkoba yang ada di Kalideres, ini pengembangan dari 2 pabrik narkoba sebelumnya di 2018. Kemudian di Kalideres ini bisa memproduksi sebulan 15 kilo," sambungnya.

Jaringan yang ditangkap pun merupakan jaringan internasional. Salah satunya melibatkan jaringan dari Amerika Serikat.

"Kami mendapatkan penghargaan dari drug enforcement administration (DEA), karena kita bisa mengungkap modus pengiriman narkoba dengan pola yang baru, dikirim dari negara-negara yang tidak dicurigai produsen atau negara-negara low risk. Selama ini dikirim dari China, Myanmar, Malaysia, ternyata sindikat ini memutar otaknya bagaimana supaya tidak dicurigai, dia dikirim dari Amerika Serikat, sehingga pabrik ini ada di Los Angeles, dari Los Angeles ini dikirim ke negara-negara ketiga, salah satunya ke Indonesia, kita kerja sama dengan bea cukai, kita gunakan teknik control delivery, akhirnya kita bisa ungkap sindikat China 2 kali, kemudian kita kerja sama dengan DEA, mereka juga melaksanakan penyitaan di Los Angeles sana," papar Hengki.

Lebih lanjut, Hengki mengatakan pihaknya berkomitmen memberantas narkoba. "Terkait dengan narkoba, karena sangat erat kaitannya kejahatan jalanan dengan narkoba. Kami boleh analogikan 9 dari 10 street crime adalah di bawah pengaruh narkoba. Oleh karenanya kami berkomitmen untuk mengungkap narkoba, karena ternyata erat kaitannya narkoba dengan kejahatan jalanan," tandas Hengki.


(mei/mei)