Laode Syarif Baca Puisi untuk Randi yang Tewas di Demo Kendari

Ibnu Hariyanto - detikNews
Kamis, 19 Des 2019 19:44 WIB
Wakil Ketua KPK Laode M Syarif meresmikan auditorium Randi-Yusuf di gedung Anti-Corruption Learning Center (ACLC) KPK. (Ibnu Hariyanto/detikcom)
Jakarta - Wakil Ketua KPK Laode M Syarif sangat terpukul mendengar kabar Randi, mahasiswa Universitas Halu Oleo, tewas saat demo ricuh di depan DPRD Sulawesi Tenggara (Sultra).

"Itu lowest point sampai saya tidak bisa tidur, sampai saya dengar Randi tertembak. Saya masih ingat itu kira-kira jam 2 Subuh," kata Syarif di gedung ACLC, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (18/12/2019).

Hal itu disampaikan Syarif saat meresmikan auditorium Randi-Yusuf. Peresmian turut dihadiri Direktur Amnesty International Indonesia Usman Hamid, peneliti ICW Wana Alamsyah, dan perwakilan keluarga Randi-Yusuf.




Syarif pun menuliskan puisi yang didedikasikan untuk Randi yang tewas tertembak akibat demo RUU KPK di depan gedung DPRD Sultra. Syarif membacakan puisi itu dengan emosional.

"Anak laut matahari negeri, anak laut itu tumbuh di tanah cadas bebatuan Pantai Lakarinta, Pulau Muna," ujar Syarif membacakan puisinya.

Berikut puisi lengkap dari Syarif untuk Randi.

Anak laut matahari negeri, anak laut itu tumbuh di tanah cadas bebatuan Pantai Lakarinta, Pulau Muna. Tumbuh dari singkong dan jagung yang nembus cadas dan air laut yg menggarami hidupnya. Tanpa keluh, tanpa kesah menjalani hidup yang memang keras dari awalnya. Di mata Lasali dan Wan Nasrifah, dia adalah matahari di antara dua bulan belahan hati.

La Sali tekun mengajari mataharinya arah angin dan teriak gelombang agar mampu membaca laut. Wan Nasrifah tekun mendidiknya mengenal aksara semampu yang dia pahami. La Sali sadar, membaca laut dengan hanya bermodal dayung dan kail tidak akan memuliakan mataharinya. Satu-satunya asah, hanya pada ketekunan dan kekerasan hati mataharinya.

Sang anak laut tumbuh sesuai kehendak alam menembus cadas menyelami karang. Sang anak laut tidak bermimpi menjadi matahari, tetapi di lubuk hatinya dia bertekad meninggikan tiang perahu ayahnya, melebarkan dapur ibunya, dan meluaskan pikiran kakak dan adik-adik perempuannya.

Lewat bidik misi dia awali perantauannya, mengejar matahari menyelami cara memuliakan ikan, bahkan disambi dengan menjadi kuli bangunan, demi doa dan harapan orang tuanya.

Hari Kamis 26 September 2019, Pantai Lakarinta tenang, air semilir memanjakan ikan yang melompat riang di balik matahari sore. La sali sedang melaut dengan jaring dan kail satu-satunya, demi matahari dan dua bulan yang merantau.

Burung laut bersuara lirih menghampiri perahunya, tetapi tak dihiraukan karena angannya dipenuhi matahari dan dua bulan di tanah rantau.

Dia tambatkan perahunya lalu menuju rumah dengan menghitung langkahnya. Tapi kali ini berbeda, karena kerbat menjemputnya dalam diam. Ohaini.. ohainiii... artinya ada apa ini.. ada apa ini, tak ada suara, tak ada jawaban. Lah nusantara tiba-tiba dingin, ikan terdiam nyiruh merunduk.

Anak laut itu melejit jadi matahari, membumbung, menyebar sinarnya, melelehkan bedil yang merenggut raganya dan jiwanya tetap hidup bergemuruh di dalam dada anak negeri yang menolak bersekutu dengan kebohongan dan kepalsuan.

Duka anak laut, mengenang Randi


Tonton juga Sambangi DPR, IMM Minta Kasus Mahasiswa Tewas Demo Kendari Diusut :

[Gambas:Video 20detik]

(ibh/fdn)