Muhammadiyah Ungkap Kejanggalan Saat Diajak Tur ke Xinjiang China

Lisye Sri Rahayu - detikNews
Senin, 16 Des 2019 19:08 WIB
Foto: Muhammadiyah ungkap kejanggalan saat diajak tur ke Xinjiang, China (Lisye Sri Rahayu/detikcom)
Jakarta - Ketua Hubungan Kerja Sama Internasional PP Muhammadiyah, Muhyiddin Junaidi menceritakan detail kunjungan delegasi organisasi masyarakat (ormas) Islam ke Xinjiang, China. Dia juga menegaskan delegasi tersebut tidak menerima uang sedikit pun dari pemerintah China.

"Kami delegasi ormas Islam Indonesia dari Muhammadiyah, PBNU dan MUI jumlahnya 15 orang. Masing-masing ormas mengirim 5 orang plus 3 wartawan dari media cetak dan elektronik. Diundang Kedubes China untuk Indonesia ke Xinjiang Otonomic Region," kata Junaidi di PP Muhammadiyah, Jalan Menteng Raya, Jakarta Pusat, Senin (16/12/2019).

Juanidi yang juga ketua delegasi mengatakan saat tiba di Beijing, pihaknya diterima oleh Dubes China untuk Indonesia. Kemudian mereka diberikan penjelasan terkait masyarakat muslim Uighur.

"Sampai di Beijing, kami biasalah berkunjung, bersilaturahmi dengan Bapak Dubes, kemudian ada ceramah malam, makan malam. Memberikan gambaran soal Xinjiang Uighur Otonomic tersebut. Secara ringkas beliau mengatakan 22,8 juta penduduk Uighur itu mayoritas adalah muslim, sisanya non-muslim, dari beberapa suku," kata dia.


Setelah itu, Juniadi beserta rombongan diperkenalkan dengan pimpinan China Islamic Association (CIA). Mereka yang kemudian mengawal rombongan dari Indonesia selama kunjungan ke Uighur.

"Saat kami tiba di ibukota dari Xinjiang ke Uighur itu sudah hampir pukul 8 malam, kami minta saat jamuan makan malam kepada wakil ketua CIA untuk salat berjamaah. Tapi oleh beliau dikatakan masjid agak jauh dan susah ke sana karena suhu udara -17 derajat. Tapi kalau itu permintaan tamu, biasanya apapun dituruti," kata dia.

Atas penolakan untuk salat berjamaah itu, Junaidi mulai curiga terhadap pihak CIA. Kecurigaan Junaidi kian berlanjut saat rombongannya tiba di hotel.

"Mulai saat itu kami mencurigai, masuk kami ke hotel, memang sudah ada direction of kiblat di tiap kamarnya tapi nampak jelas yang asli dan yang baru dibikin itu berbeda. Yang seperti Anda temukan di Indonesia dan beberapa negara Islam biasanya arah kiblat itu sudah tetap definitif jelas. Kami mulai curiga," ujarnya.


Ketua Bidang Hubungan Luar Negeri Majelis Ulama Indonesia (MUI) itu menjelaskan bahwa timnya juga tidak boleh keluar hotel sendirian. Perlakuan itu terjadi terhadap wartawan yang ingin berbelanja.

"Ketika seorang wartawan yang ikut kami ingin membeli rokok ternyata di depan dihadang, where are you going, 'mau beli rokok, akhirnya'. 'Oke saya (petugas yang hadang) mau beli, apalagi mau beli? Minum mau? Beli satu lagi untuk membakar rokoknya', itu saya berikan airnya dikasih, kemudian rokoknya dikasih, kemudian alat pembakar rokoknya dikasih," lanjutnya.

Selanjutnya
Halaman
1 2 3