Muhammadiyah Sangkal Wall Street Journal soal Muslim Uighur

Idham Kholid - detikNews
Sabtu, 14 Des 2019 21:16 WIB
Foto: Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Muti. (Jefrie/detikcom)
Foto: Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti. (Jefrie/detikcom)
Jakarta - Pengurus Pusat (PP) Muhammadiyah menepis tudingan yang menyebut pihaknya dibayar China agar tidak mengkritik soal kondisi muslim Uighur. Muhammadiyah menegaskan tuduhan itu tidak benar.

"Muhammadiyah tidak boleh melakukan kegiatan hanya karena ada dana. Dan tidak boleh juga lidahnya kelu karena didanai. Saya perlu menyampaikan ini menutup pengantar saya, karena dua hari terakhir ini banyak sekali beredar di media khususnya di media online, berita dari Wall Street Journal yang judulnya itu provokatif, yang judulnya menyebutkan karena diplomasi China, dibiayai China, maka NU dan Muhammadiyah itu lidahnya kelu tidak mengkritik perlakukan pemerintah China terhadap muslim Uighur," kata Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti.

Mu'ti menyampaikan itu dalam pengajian bulanan PP Muhammadiyah bertajuk 'Regulasi Majelis Taklim: Haruskah?" yang digelar di Kantor PP Muhammadiyah, Jakarta, Jumat (13/12). Rekaman ditayangkan di Channel Youtube tvMU Channel seperti dilihat pada Sabtu (14/12/2019).


Mu'ti menegaskan Muhammadiyah independen. Dia mengatakan Muhammadiyah tidak bisa dibeli.

"Saya kemudian menjawab tidak ada ceritanya Muhammadiyah itu bisa dibeli. Muhammadiyah itu akan senantiasa independen dalam setiap pernyataan dan kegiatan-kegiatannya, bahkan kalau ada yang mengatakan Muhmamadiyah itu hanya karena dibiayai ke sana kemudian kehilangan hati nuraninya, itu termasuk kelompok yang tasytaru biayatillahi tsamanan qolilan (menjual ayat-ayat Allah dengan harga yang murah), sesuatu yang tidak akan mungkin dilakukan oleh Muhammadiyah," ujarnya.

Mu'ti menilai berita tersebut sesat, tidak memiliki dasar dan sangat tendensius ditunggangi Amerika. Mu'ti lalu bercerita saat Dubes Amerika Serikat mendatangi PP Muhammadiyah dan meminta agar membuat pernyataan soal Uighur.

"Jadi Wall Street Journal ini menurut saya telah menerbitkan berita yang ecek-ecek tadi itu, murahan dan tidak memiliki dasar, dan bahkan menurut saya sangat tendensius ditunggangi kepentingan Amerika. Waktu Dubes Amerika Serikat ke PP Muhammadiyah, Duta Besar meminta Muhammadiyah membuat pernyataan soal Uighur, tapi kita katakan bahwa Muhammadiyah punya penilaian tersendiri dan kalau menyampaikan sesuatu harus didukung oleh data," ujaranya.
Selanjutnya
Halaman
1 2