Proyek Huntap Palu Tak Sesuai Standar, Danrem-Kapolda Sulteng Tegur Aplikator

M Qadri - detikNews
Kamis, 05 Des 2019 19:49 WIB
Danrem 132/Tadulako, Kolonel Inf Agus Sasmita dan Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Lukman Wahyu Harianto. (Foto: M Qadri/detikcom)
Danrem 132/Tadulako, Kolonel Inf Agus Sasmita dan Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Lukman Wahyu Harianto. (Foto: M Qadri/detikcom)
Palu - Danrem 132/Tadulako, Kolonel Inf Agus Sasmita dan Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Lukman Wahyu Harianto melakukan sidak ke proyek pembangunan hunian tetap (Huntap) di Palu. Saat sidak ditemukan pengerjaan proyek tidak menggunakan spesifikasi bangunan yang ditetapkan.

Pantauan detikcom, rombongan sidak bertolak dari Markas Korem 132/Tadulako ke sejumlah pekerjaan Huntap di Palu dan Kabupaten Sigi. Keterlibatan TNI AD dalam percepatan pembangunan rehab rekonstruksi menemukan sejumlah permainan kontraktor yang diduga bekerjasama dengan aplikator untuk menurunkan kualitas bangunan Huntap.

"Saat kita melakukan pengecekan pembuatan panel di dua titik daerah Kelurahan Pengawu, kita menemukan tumpukan rangkaian besi nomor 6 yang diduga digunakan untuk tulang guna membuat panel oleh CV. Sinar Agung, semestinya itu digunakan rangkaian besi nomor 8. Perbedaan kekuatan panel sangat jauh berbeda, dan ini berbahaya," tegas Agus Sasmita, selaku Dansatgas Percepatan Pembangunan Rehab Rekonstruksi kepada detikcom di Kelurahan Pengawu, Kamis (5/12/2019).

Danrem 132/Tadulako, Kolonel Inf Agus Sasmita dan Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Lukman Wahyu Harianto.Danrem 132/Tadulako, Kolonel Inf Agus Sasmita dan Kapolda Sulawesi Tengah Irjen Lukman Wahyu Harianto. (Foto: M Qadri/detikcom)




Menurutnya, untuk perbandingan harga besi nomor 8 dan besi nomor 6 pada tiap batangnya itu adalah Rp 15 ribu. Sehingga diduga ada pihak yang mengambil keuntungan dari proyek huntap di Palu.

"Bayangkan aja Rp 15 ribu per satu batang, kali dengan jumlah besi yang digunakan untuk panel. Speknya diturunkan supaya bisa peroleh untung yang banyak, kan kasian korban bencananya. Udah korban dicurangi lagi dalam pembangunan Huntap," tegas Agus.

Tidak hanya itu, lokasi percetakan panel di lokasi kedua, rombongan kembali menemukan bahan campuran pembuatan panel yang dilakukan oleh CV. Rehan Putra Perkasa, Staf ahli BNPB Maijen TNI Pur Amrin menemukan bahan campuran yang digunakan kontraktor yang diawasi oleh aplikator hanya menggunakan 1 ember semen, 2 ember pasir dan 3 ember kerikil untuk satu buah panel.



"Sangat parah, dari ketentuan Kementerian PUPR yang sudah disampaikan melalui juknis itu kan harus menggunakan bahan campuran 2 ember semen, 3 ember pasir dan 4 ember kerikil. Sehingga kekuatan panel bisa capai 29 MPA (megaspascal), dan yang terjadi hanya dalam pembuatan panel yang ada, kekuatan beton hanya capai 15-17 MPA," tutur Amrin kepada aplikator CV, Rehan Putra Perkasa.

Selanjutnya
Halaman
1 2