ADVERTISEMENT

Round-Up

Pidato 2 Halaman Menteri Nadiem di Mata Guru

Tim detikcom - detikNews
Senin, 25 Nov 2019 05:24 WIB
Mendikbud Nadiem Makarim (Foto: Lamhot Aritonang/detikcom)
Jakarta - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim membuat pidato dua halaman jelang Hari Guru Nasional. Beragam tanggapan pun disampaikan oleh organisasi-organisasi guru.

Dalam pidatonya yang diunggah di situs Kemdikbud pada Jumat (22/11) itu, Nadiem mengangkat berbagai masalah guru dan mengaku tak akan memberi janji kosong. Dia juga bicara tentang tugas guru yang merupakan termulia dan tersulit.

"Anda ditugasi untuk membentuk masa depan bangsa, tetapi lebih sering diberi aturan dibandingkan dengan pertolongan," kata Nadiem seperti dikutip detikcom, Sabtu (24/11).



Nadiem juga menyinggung guru yang dibebankan hal-hal administratif hingga menghambat proses belajar mengajar hingga guru yang terpaksa bertumpu pada hasil ujian gara-gara kebijakan pemangku kepentingan. Selain itu, eks Bos Go-Jek itu juga meminta adanya perubahan.

"Apa pun perubahan kecil itu, jika setiap guru melakukannya secara serentak, kapal besar bernama Indonesia ini pasti akan bergerak," ujarnya.



Pidato Nadiem sepanjang dua halaman itu lantas mendapat komentar dari Federasi Serikat Guru Indonesia (FSGI). Di mata FSGI, pidato Nadiem itu seolah seperti 'pengakuan dosa' terhadap guru yang selama ini banyak dibebani.

"Kalau seandainya bisa disampaikan dalam tanda kutip ya bahwa Pak Menteri mengakui adanya semacam 'pengakuan dosa' terhadap guru. Karena membebani yang banyak sekali beban itu, dilakukan secara administratif, tugas, dan sebagainya untuk guru yang seharusnya tugas itu untuk memajukan pendidikan tetapi tugas itu kelihatannya atau justru membebani dan menghambat. Jadi pidato yang halaman pertama itu ada pengakuan seperti itu," kata Sekjen FSGI Heru Purnomo saat dihubungi, Minggu (24/11/2019).



FSGI juga menyoroti perubahan yang diminta Nadiem. Menurut FSGI, perubahan itu tidak bisa dilakukan dengan sekadar berdasarkan instruksi semata. Dia mengatakan harus ada suatu regulasi yang mendukung langkah perubahan itu.

"Kalau nggak ada regulasi untuk perbaikan seperti itu, perubahan ini harus dari bawah. Apakah semua guru menangkap pidato pak menteri ini? Kan belum tentu. Semua kepsek apa menangkap, apakah semua pengawas, birokrasi pendidikan menangkap yang ada? Kan mereka patuh terhadap aturan, kalau aturan tidak berubah bagaimana mereka mematuhi itu," tuturnya.




Simak video Teks Pidato Mendikbud Nadiem di Hari Guru Bikin Netizen Terkesan:




Sementara di mata Ikatan Guru Indonesia (IGI), dalam pidatonya, Nadiem dinilai ingin agar guru-guru tak lagi terbebani pekerjaan administratif. Selain itu, lewat pidatonya, Nadiem juga dinilai ingin menempatkan guru pada posisi terhormat.

"Kami juga menangkap keinginan Nadiem Makarim untuk menempatkan guru pada posisi terhormat," kata Ketum Pengurus Pusat IGI Muhammad Ramli Rahim kepada wartawan, Minggu (24/11/2019).



Karena itu, IGI pun mendorong sejumlah hal untuk mewujudkan keinginan-keinginan tersebut. Pertama, mendorong adanya inovasi di dunia pendidikan untuk mewujudkan keinginan tersebut. Kedua, mendorong Nadiem untuk mensejahterakan guru-guru di Indonesia.

"Nadiem Makarim harus mampu membebaskan guru dari keterhinaan dengan pendapatan yang bahkan jauh lebih rendah dari buruh bangunan. Dengan cara seperti itu, Nadiem Makarim menempatkan guru pada tempat yang mulia sehingga guru betul-betul dapat berkonsentrasi pada proses pembelajaran untuk menyiapkan anak-anak bangsa di masa yang akan datang," kata Ketum Pengurus Pusat IGI Muhammad Ramli Rahim kepada wartawan, Minggu (24/11/2019).

"Prinsip guru tanpa tanda jasa sudah harus diubah mengingat kebutuhan untuk kehidupan sehari-hari semakin berat dan karena itu guru-guru Indonesia harus ditempatkan pada posisi yang mulia dengan diberikan pendapatan yang layak," sambung dia. (mae/jbr)


ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT