Warga Sumut Jijik Makan Ikan Gegara Bangkai Babi, Gubernur Beri Penjelasan

Khairul Ikhwan Damanik - detikNews
Selasa, 19 Nov 2019 11:50 WIB
Gubernur Edy Rahmayadi. Foto: Khairul Ikhwan Damanik
Gubernur Edy Rahmayadi. Foto: Khairul Ikhwan Damanik
Medan - Pembuangan bangkai babi ke sungai dan danau di Sumatera Utara (Sumut) membuat masyarakat enggan mengonsumsi ikan. Nelayan dan pedagang ikan kena imbasnya.

Gubernur Sumut Edy Rahmayadi menyatakan, masyarakat banyak yang belum mengetahui bahwa virus hog cholera itu hanya menular dari dan kepada babi. Tidak berpindah ke ikan, maupun manusia dan lainnya.

"Masyarakat harus tahu, kalau itu benar-benar hog cholera, tidak menular kepada semuanya. Binatang lain, manusia. Tidak. Khusus memang menyerang babi. Ikan tidak ada masalah," kata Edy di Kantor Gubernur Sumut, Jalan Diponegoro, Medan, Selasa (19/11/2019).


Enggannya warga mengonsumsi ikan, sambung Edy, semata karena faktor jijik saja. Pasalnya bangkai babi yang dibuang peternak mengambang di sungai sehingga menimbulkan berbagai persepsi.

"Masyarakat jijik. Makanya tidak mengonsumsi ikan," katanya.


Keengganan masyarakat mengonsumsi ikan dipicu pembuangan bangkai babi ke sungai yang mengalir hingga ke hilir. Di Pusat Pasar Medan, dan juga sejumlah pasar ikan, pedagang mengeluhkan turunnya omset setelah masalah virus kolera babi muncul.

Terkait dengan masalah ini, kata Edy, maka semua pihak diminta membantu penanganannya. Termasuk pemerintah kabupaten dan kota, untuk mengerahkan kemampuan yang ada mencegah penyebaran virus yang sampai hari ini menyebabkan kematian 9.421 ekor babi. Selain itu juga diminta mencegah warga membuang ternak babi yang mati secara sembarangan.

"Kerahkan semua potensi yang ada. Satpol PP, dibantu polisi, tentara untuk menangani ini," kata Edy.




Tonton juga video Ratusan Bangkai Babi Ditemukan di Sungai Bederah Medan:

[Gambas:Video 20detik]



(rul/tor)