Bicara Ancaman Keamanan, Panglima TNI Singgung Bom Bunuh Diri di Medan

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Rabu, 13 Nov 2019 20:58 WIB
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (Rolando/detikcom)
Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto (Rolando/detikcom)
Jakarta - Panglima TNI Marsekal Hadi Tjahjanto berbicara soal stabilitas keamanan nasional dalam Rakornas Forkopimda 2019. Menurut Hadi, di era revolusi industri saat ini, ancaman keamanan berkembang dengan mudah.

"Bicara stabilitas keamanan, tentunya kita bicara adalah tren aspek ancaman. Bapak-ibu sekalian, ancaman saat ini dengan berkembangannya revolusi industri 4.0 begitu mudah, sehingga sifat ancaman ada tiga," kata Hadi di Sentul International Convention Center, Bogor, Rabu (13/11/2019).


Hadi menjelaskan tiga bentuk ancaman keamanan. Hadi mengatakan ancaman ada yang muncul tiba-tiba dan ancaman yang temponya singkat.

"Yang pertama adalah eskalatif, tiba-tiba muncul menjadi ancaman begitu besar. Yang kedua adalah mix bergabung terjadi dua dan tiga. Yang ketiga adalah tempo singkat," ucap Hadi.




Hadi pun menyinggung bom bunuh diri yang terjadi di Polrestabes Medan. Hadi tidak membayangkan bom bunuh itu dapat terjadi.

"Kita tidak membayangkan apa yang terjadi tiba-tiba bleng di Medan, tiba-tiba terjadi bom bunuh diri. Ini adalah satu sifat dari ancaman tersebut," ujarnya.


Lebih lanjut, Hadi bercerita soal ancaman yang terjadi di Indonesia pada tahun sebelumnya. Hadi mengatakan terjadi tiga ancaman yang berlangsung secara bersamaan.

"Banyak sekali contoh ketika tahun 2019 atau 2019, kita diuji tiga ancaman, kita sedang melaksanakan pengamanan di Ibu kota karena unjuk rasa, tiba-tiba Papua bergejolak. Sedangkan kita juga masih juga mengurusi karhutla (kebakaran hutan dan lahan), terjadi tiga bentuk ancaman, yang satu itu harus diselesaikan bersama-sama," sebut Hadi.

"Artinya apa? Ancaman itu memang dicampur-campur dan dalam waktu tempo yang cepat. Bagaimana caranya kita bisa menjaga stabilitas dari ancaman tersebut? Adalah kerja sama, sinegritas, TNI-Polri, termasuk Forkopimda," imbuhnya.



Selain itu, Hadi berbicara mengenai organisasi baru dalam tubuh TNI yaitu Komando Gabungan Wilayah Pertahanan (Kogabwilhan). Hadi mengatakan pembentukan Kogabwilhan adalah bentuk adaptasi TNI terhadap ancaman yang berkembang.

"Kedua adalah dengan adanya tren ancaman kita memerlukan satu organisasi yang adaptif. TNI baru saja meresmikan organisasi baru, yaitu Kogabwilhan," kata Hadi.

Di hadapan para gubernur, pangdam, kapolda, bupati/wali kota, dandim, danrem, dan kapolres se-Indonesia, Hadi mengatakan Kogabwilhan diisi oleh tiga matra TNI. Hadi pun mengungkapkan posisi markas setiap Kogabwilhan.

"Yang ini isinya tiga matra, memang kita melaksanakan kompartemenisasi. Ada tiga wilayah yaitu wilayah satu dengan markasnya di Tanjung Pinang, Kogabwilhan dua ada di Balikpapan, dan Kogabwilhan tiga markasnya sementara ada di Biak," ujar Hadi.

"Dari tiga Kogabwilhan tersebut, kekuatannya adalah bagian dari kekuatan unsur kewilayahan, Kodam, Kogabwilhan, dan termasuk Koopau, menjadi kekuatan sebagian dari unsur-unsur Kogabwilhan tersebut," sambung Hadi.

Demi berjalannya Kogabwilhan dengan efektif, Hadi meminta ada peran pemerintah daerah. Hadi mengatakan pemerintah daerah harus membantu terlaksananya tugas Kogabwilhan.

"Bagaimana Kogabwilhan ini bisa berjalan dengan sangat efektif? Adalah bantuan dari pemerintah daerah. Pemerintah daerah harus berperan untuk membantu terlaksananya fungsi atau tugas dari Kogabwilhan," sebut Hadi. (rfs/knv)