Pak Jokowi, Begini Rumitnya Regulasi Eksekusi Mati Gembong Narkoba

Andi Saputra - detikNews
Jumat, 08 Nov 2019 08:42 WIB
4 Penyelundup sabu sebesart 1,4 ton dihukum mati tapi belum dieksekusi (ist.)

Atas kegaduhan putusan MK ini, sempat dibuat rapat gabungan antara Menteri Hukum dan HAM, Jaksa Agung HM Prasetyo, dan Menko Polhukam Tedjo Edhy Purdijatno. Mereka menandatangani kesepakatan mengenai pengajuan peninjauan kembali dan grasi.

Namun, kesepakatan itu tiada jelas ujungnya. Jaksa Agung sebagai otoritas tunggal eksekusi masih gamang melakukan eksekusi mati. Bila PK boleh berkali-kali, maka para gembong narkoba semakin susah untuk dieksekusi mati.

Kerunyaman semakin menjadi-jadi karena ada hak napi lainnya yaitu grasi. Putusan MK Nomor 107/PUU-XIII/2015 memutuskan permohonan grasi tidak dibatasi waktu. Hal ini lagi-lagi membuat celah hukum. Kala tim algojo akan membawa para gembong narkoba ke tiang eksekusi, mereka akan teriak kencang: "Saya akan grasi."

Di sisi lain, serbuan narkoba ke Indonesia sudah dalam keadaan darurat. Tidak lagi dalam jumlah ratusan kilogram, tapi sudah dalam jumlah ton sekali operasi penyelundupan.

Kasus terbesar terakhir yaitu penyelundup sabu seberat 1,6 ton. 4 WN China, Yao Yin Fa, Chen Meisheng, Chen Yi, dan Chen Hui dihukum mati. Tapi hingga kini tak kunjung dieksekusi mati.
Halaman

(asp/nvc)