Eks Teroris: Aceh Daerah yang Dilirik Kelompok Radikal di Indonesia

Agus Setyadi - detikNews
Rabu, 06 Nov 2019 16:08 WIB
Eks Teroris Aceh Yudi Zulfahri (Agus Setyadi/detikcom)
Banda Aceh - Mantan teroris di kamp pelatihan di Jalin, Jantho, Aceh, Yudi Zulfahri, menyebut Tanah Rencong masih dilirik kelompok radikal di Indonesia. Pada akhir tahun lalu, misalnya, kelompok pimpinan Abu Hamzah menggelar latihan militer di Gunung Salak, Aceh Utara.

"Aceh ini sebenarnya daerah yang dilirik oleh kelompok radikal di Indonesia, sampai saat ini. Alasannya karena ada beberapa pertimbangan, di daerah lain di Indonesia itu sudah kesulitan," kata Yudi kepada wartawan di Banda Aceh, Rabu (6/11/2019).


Kesulitan yang dimaksudkan Yudi adalah ruang geraknya sudah sempit serta logistik dan persenjataan susah. Sementara di Aceh, jelasnya, geografinya masih bagus dan senjata mudah dipasok dari Thailand.

"Untuk logistik juga cenderung mudah karena tanahnya subur, masyarakat juga dianggap sudah siap dengan perang," jelas Direktur Yayasan Jalin Perdamaian ini.

"Terus apa yang paling penting, isu syariat Islam sehingga untuk propaganda politiknya di sini lebih mudah, maka Aceh masih didatangi sampai sekarang, cuma hari ini ditolak," ungkap Yudi.

Menurutnya, kelompok terakhir yang membuat pelatihan militer di Gunung Salak, Aceh Utara pada Desember lalu tidak sampai menjadi sebuah gerakan. Kekuatan mereka tidak sebesar kelompok yang pernah menggelar latihan serupa di Jalin, Jantho, Aceh Besar pada 2010 lalu.

"Di Gunung Salak itu paling mampu bikin pemukiman saja belum bisa bikin gerakan. Di Aceh nggak ada ideologi radikalisme tapi dibawa dari luar Aceh. Kayak kita dulu," bebernya.


Yudi saat ini sudah 'insaf' dari kelompok ini setelah menjalani hukuman penjara selama 5,5 tahun. Dia divonis 9 tahun penjara karena ikut terlibat dalam kamp latihan teroris di Jantho.

Setelah keluar dari penjara, Yudi bersama 15 mantan napi teroris lain membuat Yayasan Jalin Perdamaian. Dia kerap diundang untuk menjadi pembicara di seminar-seminar.

Menurutnya, untuk mengubah seseorang yang terpapar paham radikalisme, butuh sinergi antara pemerintah dan berbagai pihak. Eks napi teroris, sebutnya, punya cara untuk mengubah orang-orang tersebut.

"Generasi Jalin dulu pemikirannya seperti itu juga. Makanya kita paham bagaimana cara menyentuh mereka yang sebenarnya gitu. Proses kita keluar dari situ kan kita alami sendiri jadi cara menyentuh mereka kita tahu dan itu butuh proses," kata Yudi.

Selanjutnya
Halaman
1 2