Celana Panjang: Dari Persia ke Arab Era Nabi Muhammad

Danu Damarjati - detikNews
Minggu, 03 Nov 2019 17:24 WIB
Ilustrasi busana budaya Arab abad ke-13, dari buku Maqamat karya Al Hariri. (The Yorck Project/Zenodot Verlagsgesellschaft mbH/Wikimedia Commons)
Ilustrasi busana budaya Arab abad ke-13, dari buku 'Maqamat' karya Al Hariri. (The Yorck Project/Zenodot Verlagsgesellschaft mbH/Wikimedia Commons)
Jakarta - Jauh sebelum celana cingkrang jadi polemik di Indonesia, celana panjang sudah dikenakan suku nomaden Iran, Scythia, sejak milenium ke-2 sebelum Masehi. Busana penunggang kuda itu juga dipakai oleh orang-orang Kekaisaran Persia.

Yedida Kalfon Stillman dalam karyanya, 'Arab Dress: A Short History, From the Dawn of Islam to Modern Times', menjelaskan perihal busana yang dikenakan orang Arab sebelum Nabi Muhammad SAW. Dia mengutip sejarawan era Yunani kuno bernama Herodotus yang hidup pada tahun 484-485 sebelum Masehi (SM).

Herodotus mengamati orang-orang Arab Nabatea yang wilayahnya pada saat ini merentang dari Hijaz Arab Saudi hingga Damaskus Suriah. Orang Arab pada era itu mengenakan zeira/izar atau kain pendek yang diikat dengan ikat pinggang.


Adapun patung dari Kerajaan Lihyan di utara Hijaz memperlihatkan penguasa kerajaannya bertelanjang dada. Busananya juga menunjukkan kemiripan dengan pakaian ihram yang digunakan muslim saat ibadah haji.

Busana masyarakat Arab pra-Muhammad telah dipengaruhi oleh budaya-budaya tetangganya yang lebih besar, yakni budaya Persia dan Yunani-Romawi. Orang Arab yang tinggal di Suriah mengenakan busana gaya Yunani-Romawi. Sedangkan penguasa Arab di Hatra (290 km barat laut Baghdad saat ini) mengenakan busana gaya Persia, termasuk celana ala Persia.

Artinya, celana panjang diprediksi sudah dikenal oleh orang Arab sebelum muslim menaklukkan Kekaisaran Sassaniyah, penguasa terakhir Persia pra-Islam. Selain busana dengan pengaruh Persia atau Yunani-Romawi, tentu ada busana khas Arab yakni yang dikenakan suku Badui, berupa kain pembungkus badan yang longgar (tidak ketat).

Pada massa pra-Muhammad, orang Arab punya kebiasaan flamboyan menjuntaikan busananya sampai tanah. Puisi pada era pra-Islam sering mendeskripsikan kain seseorang yang diseret di tanah pada masa damai, masa sejahtera, dan saat pesta pora. Salah satunya adalah karya Amr bin Qami'a, yang meratapi masa mudanya yang hilang.

"Saat aku menyeret rayt (kain mewah dan halus sebagai aksesori) dan mirt (pakaian bawahan)-ku ke penjaja anggur terdekat seraya menyibakkan rambut ikalku," demikian penggalan puisi karya Qami'a.


Penyair Ta'abbata Sharran juga berpuisi menggambarkan keluwesan dalam pergaulan para tentara saat kumpul bareng anggota sukunya. "Di antara sukunya dengan kain yang terseret dan rambut hitam yang terurai," demikian kutipan puisinya.

Islam datang dan kain yang tidak melebihi mata kaki dinyatakan lebih baik. Kain yang lebih pendek menandakan sikap asketis (tidak lekat dengan duniawi), sedangkan kain yang lebih panjang menandakan sikap bebas.
Selanjutnya
Halaman
1 2 3