Terbukti Suap Sukiman, Eks Plt Kadis PUPR Pegaf Divonis 1,5 Tahun Bui

Faiq Hidayat - detikNews
Senin, 28 Okt 2019 20:56 WIB
Sidang vonis Natan Pasomba (Faiq Hidayat/detikcom)

Kasus suap Pegunungan Arfak bermula Natan mendapat arahan dari Bupati Pegunungan Arfak Yosias Saroy dan Wakil Bupati Arfak Marinus Mandacan untuk memaksimalkan pengusulan anggaran DAK (dana alokasi khusus) untuk Kabupaten Pegunungan Arfak.

Setelah itu, Natan merancang anggaran tersebut ke Bappeda sehingga tercipta usulan DAK reguler Kabupaten Arfak pada APBN 2017 ke Kemenkeu yang diparaf Yosias pada 6 Juni 2016 senilai Rp 1 triliun.

Kemudian Natan menyampaikan proposal pengajuan itu kepada Rifa Surya agar membantu mengawal untuk mendapatkan DAK maksimal. Rifa pun menyanggupi itu.


Pada bulan Oktober 2016 bertempat di ruang penerimaan tamu lantai 3 Gedung Ditjen Kemenkeu, Rifa bertemu dengan Natan dengan menyampaikan DAK Kabupaten Pegunungan Arfak sudah dialokasikan pada APBN TA 2017 sebesar Rp 30 miliar, di mana Rifa Surya kemudian meminta commitment fee sebesar 9 persen dari nilai DAK yang nantinya disetujui.

Setelah disepakati kedua belah pihak terkait fee 9 persen, Rifa memantau perkembangan alokasi Kabupaten Arfak dan akhirnya disepakati anggaran Kabupaten Arfak tahun 2016 keluar sebesar Rp 31,7 miliar dan akhirnya Rifa menagih fee tersebut.

Setelah Kabupaten Pegunungan Arfak mendapat tambahan anggaran Juli 2017 sebesar Rp 49,9 miliar. Rifa dan Suherlan meminta fee kepada Natan.

Natan pun langsung mengirim uang fee kepada Sukiman, Rifa, dan Suherlan melalui rekening PT Dipantara Inovasi Teknologi (PT DIT). Lalu, 25 Juli 2017 Natan melalui Nicholas dan Sovuan memberikan uang fee itu secara bertahap kepada Sukiman, Rifa, dan Suherlan.

"Terdakwa melalui Nicolas Tampang Allo dan Sovian Latilipu memberikan uang komitmen fee terkait pengurusan APBN-P 2017 dan kekurangan fee pengurusan DAK reguler APBN 2017 kepada Sukiman, Rifa Surya, dan Suherlan secara bertahap dengan cara ditransfer melalui rekening PT DIT," kata hakim.
(fai/haf)