Reshuffle Bukan Jawaban Atasi Kekisruhan Kabinet SBY-JK
Kamis, 10 Nov 2005 19:16 WIB
Jakarta - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dikabarkan akan melakukan reshuffle kabinet. Namun, langkah itu diyakini bukan solusi untuk mengakhiri kekisruhan yang terjadi di kabinet.Demikian salah satu pendapat yang mengemuka dalam diskusi yang diselenggarakan Walhi di kantornya, Jalan Tegal Parang, Jakarta, Kamis (10/11/2005)."Reshuffle bukanlah jawaban. Yang dibutuhkan adalah keberanian pemerintah untuk mengakhiri kebingungan pemerintah dengan kepemimpinan presiden dalam melakukan perombakan fundamental sampai tingkat bawah," ujar Direktur Eksekutif Walhi Chalid Muhammad.Sementara itu Ekonom Faisal Basri mengatakan, permasalahan yang terjadi di pemerintahan sekarang ini adalah kurangnya strategi dari pemerintah. "Setelah menyampaikan visi dan misi pada saat kampanye, pemerintah langsung ke tahap perencanaan. Seharusnya dipikirkan dulu strategi jangka panjang di antara kedua proses itu," ujarnya.Diskusi itu setidaknya menghasilkan tiga butir kesimpulan, yakni pertama, pemerintah SBY-JK tidak memiliki strategi yang jelas dan penempatan orang yang keliru di pemerintahan. Kedua, muncul berbagai macam inisiatif rancangan UU yang dapat mempercepat ekstraksi obral sumber daya alam yang akibatnya semakin menghancurkan lingkungan hidup. Ketiga, pencapaian pembentukan menteri koordinasi dari sektoral dan lingkungan dalam jangka panjang menjadi suatu kebutuhan yang diperlukan.
(san/)











































