Gelar Simulasi Pengamanan Unjuk Rasa, Polri Ingatkan Proteksi Diri

Rolando Fransiscus Sihombing - detikNews
Sabtu, 26 Okt 2019 10:20 WIB
Karo Multimedia Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Budi Setiawan. (Rolando/detikcom)
Karo Multimedia Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Budi Setiawan. (Rolando/detikcom)
Jakarta - Polri menggelar simulasi pengamanan bagi para awak media saat terjadi kerusuhan di tengah unjuk rasa. Polri mengingatkan pentingnya proteksi diri saat melakukan peliputan aksi.

Simulasi ini digelar di Mako Brimob Kelapa Dua, Depok, Sabtu (26/10/2019). Saat simulasi, para wartawan diberi fasilitator agar mengetahui titik aman untuk peliputan. Para wartawan juga diberi helm dan rompi bertulisan 'Pers' untuk membedakan perusuh dengan wartawan.



Karo Multimedia Divisi Humas Mabes Polri Brigjen Budi Setiawan mengatakan pelatihan dilakukan untuk memberi gambaran kepada awak media ketika melaksanakan peliputan saat kerusuhan demo.

"Kadang-kadang media itu kan ingin dapat gambar yang akurat, padahal bisa zoom, zoom kurang akurat, dia mendekat sekali, padahal itu daerah berbahaya, bahkan anggota pun tidak berani ke titik itu. Kadang emosi (anggota Polri) sudah lain, jadi agar supaya saling menjaga, semua kalau kena (kekerasan) jadi masalah, menghindari itu, mungkin nanti ada cara-cara tertentu, bukan membatasi, tapi saling menjaga," kata Budi di lokasi.

Dalam penanganan demo, lanjut dia, Korps Brimob membagi situasi ke dalam tiga indikator warna, yakni hijau, kuning, dan merah. Untuk warna hijau diartikan kondisi massa masih tertib, sedangkan situasi kuning dan merah berarti massa mulai rusuh dan anarkis. Pada saat itulah wartawan diharapkan memposisikan diri berada di luar kerumunan massa atau di belakang personel kepolisian.



"Beberapa tugas utamanya adalah penanganan terorisme domestik, penganan kerusuhan, penegakan hukum berisiko tinggi, dan penyelamatan atau SAR. Dalam penanganan unjuk rasa untuk memberikan perlindungan pengetahuan kepada media diharapkan ke depannya dapat bisa mengamankan diri pada saat meliput setiap kejadian," ujar Budi.



Budi berharap pelatihan ini dapat meningkatkan kemampuan wartawan dalam meliput demo rusuh. Hal itu agar tugas wartawan sesuai dengan standard operating procedure (SOP).

"Pelatihan kali ini diharapkan menambah kemampuan awak media, di antaranya termasuk awak media memahami pola keamanan dalam penugasan kerusuhan yang dilaksanakan personel Polri. Awak media dapat melaksanakan tugas pada saat unjuk rasa dengan baik sesuai dengan SOP yang ada," imbuhnya.



Sebelumnya, Polri meminta maaf atas tindak kekerasan anggotanya terhadap jurnalis yang meliput demo RUU kontroversial di sejumlah daerah di Tanah Air pada 24-25 September. Polri berencana membekali jurnalis yang meliput aksi demonstrasi dengan seragam rompi sehingga saat kondisi rusuh, anggota di lapangan dapat mengenali wartawan.

"Ke depan, saya sudah menyampaikan berulang kali ke pemred, Dewan Pers, agar ketika teman media meliput kerusuhan atau diprediksi akan terjadi kerusuhan, semuanya dibekali rompi yang ada tulisan 'Pers'. Dan teman media yang meliput harus cermat di mana tempat yang aman saat terjadi kerusuhan. Aman dari massa dan aparat," ucap Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Kamis (27/9).

(idn/idn)