"Itu anak-anak yang free man yang hidupnya mau enak saja, tidak mau bekerja, hanya mau mengganggu yang lain. Mau dapat hasil yang banyak dengan cara-cara yang tidak benar," kata Irjen Paulus di Timika, Papua, seperti dilansir Antara, Minggu (13/10/2019).
Irjen Paulus mengatakan wilayah Woma dan sekitarnya memang cukup rawan. Lokasi itu sebelumnya padat dengan ruko-ruko dan pusat usaha ekonomi lainnya. Namun kini tinggal menyisakan puing lantaran dibakar habis oleh massa saat kerusuhan melanda Wamena, Senin (23/9). Dia menegaskan kasus penikaman itu akan diusut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pekerja bangunan yang menjadi korban penikaman itu bernama Deri Datu Padang (30), warga asal Toraja, Sulawesi Selatan. Penusukan itu terjadi pada Sabtu (12/10).
Berdasarkan informasi yang dihimpun Antara, kasus penikaman terhadap almarhum Deri Datu Padang terjadi saat korban melintas di dekat Jembatan Woma, Kota Wamena, Kabupaten Jayawijaya, Sabtu (12/10). Awalnya, korban bersama lima rekan lainnya berboncengan menggunakan empat unit sepeda motor saat kembali dari lokasi kerja mereka di depan Gereja Katolik Paroki Woma menuju Kota Wamena.
Ketika sampai di depan Jembatan Woma, korban yang tepat berada pada iring-iringan paling depan, tiba-tiba ditikam oleh OTK yang berjumlah dua orang. Pelaku berciri-ciri pria dewasa memakai baju merah dan satunya masih remaja. Keduanya melarikan diri ke arah kuburan lama.
Setelah ditikam, korban yang mengendarai motor terjatuh, kemudian berusaha bangkit kembali mengendarai motor dengan kondisi pisau masih tertancap di perut.
Korban melapor di Pos Brimob, dekat Pasar Woma, kemudian dilarikan ke RSUD Wamena. Sesampai di rumah sakit, kondisi korban makin kritis karena mengalami pendarahan hebat. Korban sempat menjalani penanganan medis, namun nyawanya tak dapat diselamatkan.
Simak Video "14 Orang Jadi Tersangka Kerusuhan di Wamena"
Halaman 2 dari 2











































