Mengenang Imanuel Nuhan Penerjun Pertama: Latihan Sepekan, Dihujani Peluru

Danu Damarjati - detikNews
Kamis, 10 Okt 2019 18:44 WIB
Foto ilustrasi (Pool)

Beberapa dari mereka tersangkut di pohon. Mereka mendarat di tempat-tempat terpisah. Tak semua parasut bisa ditemukan kembali. Semuanya baru bisa berkumpul pada hari ketiga. Mereka baru tahu belakangan bahwa tempat mendarat ini bukan Sepanbiha, melainkan kawasan dekat Kampung Sambi.

Dituliskan dalam buku 'Awal Kedirgantaraan di Indonesia: Perjuangan AURI 1945-1950', pendaratan mereka diketahui setelah hari ke-35. Ada seorang Lurah Kampung Mayang, Albert Rosing, yang berbuat khianat sehingga pihak Belanda mengetahui keberadaan 13 penerjun ini.

Pada 23 November 1947, Imanual Nuhan dan kawan-kawan berada di sebuah ladang di tepi Sungai Koleh (anak Sungai Seruyan). Di lokasi itu, tiba-tiba hujan peluru terjadi. Pasukan Belanda menembaki mereka dari tiga titik. Tiga dari 13 prajurit penerjun itu gugur, yakni Letnan Udara II Anumerta Iskandar, Sersan Mayor Udara Anumerta Achmad Kosasih, dan Kapten Udara Anumerta Hari Hadisumantri.


Satu prajurit penerjun tertawan, yakni Suyoto. Dachlan mengalami luka berat di leher. Sisa rombongan berhasil melarikan diri dan melanjutkan gerilya meski pasukan NICA begitu ketat mengepung.

"Sehingga akhirnya kurang dari dua bulan kemudian mereka semua tertangkap," tulis Irna Hadi Soewito dkk dalam buku 'Awal Kedirgantaraan di Indonesia'.


Oleh tentara NICA, mereka dibawa ke Banjarmasin dan diterbangkan ke Penjara Bukit Duri, Jakarta. Mereka bolak-balik Jakarta-Banjarmasin, sempat dijebloskan ke Penjara Bukit Batu Nusakambangan juga. Setelah perjanjian KMB di Den Haag, mereka dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta.


Halaman

(dnu/fjp)