detikNews
Kamis 10 Oktober 2019, 13:51 WIB

Terpidana Mati di LP: Overkapasitas hingga Keluhan Tak Ada Perpustakaan

Yulida Medistiara - detikNews
Terpidana Mati di LP: Overkapasitas hingga Keluhan Tak Ada Perpustakaan Ilustrasi (dok.detikcom)
Jakarta - Terpidana mati sejatinya harus dieksekusi di depan regu tembak. Namun karena tidak kunjung dieksekusi, mereka harus menanti eksekusi di dalam Lembaga Pemasyarakatan (LP). Bagaimana nasib mereka?

LSM Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) merilis hasil wawancara terhadap 7 terpidana mati yang sedang menghuni Lembaga Pemasyarakatan (LP). Beberapa temuan yang ditemukan adalah persoalan minimnya pelayanan kesehatan hingga overkapasitas.

Riset tersebut dilakukan pada periode Desember 2018-Juli 2019. Penelitian dilakukan dengan metode mewawancarai langsung di 8 lapas, dengan 7 terpidana mati, 2 pengacara, 2 perwakilan keluarga.

Kepala Divisi Advokasi Hak Asasi Manusia Kontras Arif Nur Fikri menyebut penelitian itu menanyakan sekitar proses peradilan, penegakan sampai dengan penjatuhan vonis. Serta hak pemenuhan sebagai tersangka dan terpidana, latar belakang kasus mengapa bisa divonis mati.

Arif mengatakan beberapa terpidana mati di Nusakambangan mengeluhkan aktivitas mereka lebih terkekang dibandingkan ketika di lapas luar Nusakambangan. Sementara kondisi terpidana mati yang ditahan di luar Nusakambangan mengalami overkapasitas.

"Namun di sisi lain para terpidana yang ditahan di luar Lapas Nusakambangan mengeluhkan terkait dengan kepadatan penghuni dalam sel tahanan yang mereka huni," kata Arif, saat memaparkan riset, di Hotel Novotel, Cikini, Jakarta Pusat, Kamis (10/10/2019).

Selain itu, Kontras juga menemukan minimnya pemenuhan hak atas kesehatan baik fisik dan mental bagi para terpidana. Arif menyayangkan minimnya tenaga medis dan psikologi di lapas, bahkan sering kali peran psikolog dilakukan oleh rohaniawan.

"Terkait kesehatan mental beberapa lapas telah memiliki petugas yang hanya bisa melakukan konseling, tapi sifatnya hanya asesement. Kadang mereka biasanya di serahkan ke tokoh agama sebagai pemulihan mental sehingga tidak jarang penanganannya lebih ke pendekatan keagamaan dibanding dokter," ujarnya.

Tak hanya itu, Kontras menilai akses kunjungan keluarga dan pengacara terhadap terpidana mati sulit. Kunjungan keluarga tergantung sejumlah faktor misalnya lamanya kunjungan, tetapi khusus kasus tertentu perizinan harus mengurus hingga jaksa penuntut umum yang menangani kasus tersebut sehingga membutuhkan prosedur yang lama.

Arif mengatakan penanganan para terpidana mati tidak dibeda-bedakan di hampir semua lapas. Perbedaan hanya pada jenis lapas. Di samping itu, para terpidana mati sudah memahami kondisi makanan di lapas karena overkapasitas.


Selain itu beberapa narapidana asing mengeluhkan ketiadaan perpustakaan di beberapa lapas. Tak hanya itu pada beberapa kasus narapidana yang mengalami depresi, justru pihak lapas memidahkan ke sel isolasi. Hal itu karena minimnya pemahaman petugas lapas dalam menangani kesehatan mental napi yang depresi.

Atas temuan itu Kontras menyampaikan beberapa rekomendasi. Di antaranya, meminta pemerintah menyelidiki kasus kekerasan, penyiksaan atau perlakuan buruk terhadap narapidana secara transparan dan akuntabel. Meminta pemerintah menghapus hukuman mati, mengubah peraturan pemasyarakatan menjadi standar internasional, melatih sipir memperlakukan terpidana mati.

Sementara itu menangggapi rekomendasi dan riset tersebut, Kasubdit Pembinaan Kepribadian Ditjen PAS, Zainal Arifin mengatakan pihaknya terus meminimalisir dan perbaikan di layanan lapas. Selain itu dia juga mendorong adanya kenaikan anggaran untuk meningkatkan fasilitas lapas.

"Kalau di dalam sudah berusaha untuk meminimalisir. Sekarang kalau melakukan kekerasan kita di proses, sudah diupayakan, mungkin masih ada okum yang melakukan tapi tidak terpantau oleh pimpinan lembaga tersebut. Kalau sudah terpantau Insya Alllah, usaha kota meminmalisir (kekerasan)," ujar Zainal.
(yld/asp)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com