ADVERTISEMENT

Dibahas Jokowi-PM Lee, Ini Lika-liku Pengambilalihan Langit RI dari Singapura

Tim detikcom - detikNews
Rabu, 09 Okt 2019 12:05 WIB
Foto: Pesawat asing dicegat Sukhoi TNI AU di langit Kepri. (Dok TNI AU)

Tiga syarat yang perlu disiapkan untuk merebut FIR

Mantan penerbang tempur TNI AU dan dosen pengajar pertahanan di Universitas Pertahanan (Unhan) Marsda TNI (Purn) Kusnadi Kardi menyampaikan syarat-syarat untuk merebut kembali FIR Indonesia dari Singapura. Hal itu disampaikan dalam seminar nasional Indonesia Aviation and Aerospace Watch (IAAW) di Persada Executive Club, Halim Perdanakusuma, Jakarta Timur, Rabu (26/10/2016).

Pertama, Indonesia harus memiliki UU tentang batas wilayah kedaulatan udara, sehingga memiliki kepastian hukum untuk bertindak, manakala terjadi pelanggaran wilayah kedaulatan udara, menyangkut apa sanksinya dan bagaimana upaya pencegahannya.


Kedua, standar dan kualitas penerbangan Indonesia harus diakui standar ICAO. Hal ini diperlukan agar kualitas penerbangan Indonesia diakui dunia.

Ketiga, untuk mendapatkan data yang akurat termasuk untuk mencegah illegal fishing dan pelanggaran wilayah udara oleh pesawat asing, Indonesia harus menyiapkan pesawat yang memiliki kemampuan air surveillance atau maritime air surveillance.

Instruksi Jokowi tahun 2015 untuk rebut FIR

Pada 2015, Presiden Jokowi pun pernah menginstruksikan agar FIR yang selama ini dikuasai Singapura segera diambil alih. Ia meminta kementerian terkait mempersiapkan peralatan dan personel untuk mengelola ruang udara yang dimaksud. Jokowi memerintahkan FIR diambil alih Indonesia 3-4 tahun sejak instruksi dikeluarkan.


Empat tahun berselang, isu FIR Singapura itu dibahas lagi dalam pertemuan Jokowi dengan PM Singapura Lee Hsien Loong. Tentunya, pembahasan ini bisa menjadi jalan masuk Indonesia agar bisa merebut wilayah udaranya yang selama ini dikelola oleh Singapura.

(rdp/imk)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT