Aksi Kamisan di Depan Istana, Terus Desak Jokowi Tuntaskan Kasus HAM

Jefrie Nandy - detikNews
Kamis, 03 Okt 2019 18:20 WIB
Aksi Kamisan menggelar aksi di depan Istana. (Jefrie/detikcom)
Jakarta - Massa Aksi Kamisan sore ini kembali menggelar aksinya di depan Istana Merdeka. Massa memulai aksinya dengan berdiri di pinggir jalan tersebut sambil menggunakan pakaian dan payung berwarna hitam yang bertulisan 'Tuntaskan Tragedi Trisakti, Semanggi I, Semanggi II'.

Pantauan detikcom di lokasi, massa mulai berkumpul dan berdiri menggunakan payung hitam, di sekitar Lapangan Monas, Jalan Medan Merdeka Barat, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019), sekitar pukul 15.50 WIB. Beberapa orang yang berbaris dan mengenakan payung hitam tersebut hanya berdiri dan terdiam tanpa berorasi sedikit pun.

Aksi Kamisan di Depan Istana, Desak Jokowi Tuntaskan Kasus HAMAksi Kamisan menggelar aksi di depan Istana. (Jefrie/detikcom)

Massa Aksi Kamisan ini membentangkan sejumlah banner yang menunjukkan beberapa pihak yang diduga terlibat dalam peristiwa-peristiwa pelanggaran HAM di masa lalu. Ada pula banner yang memajang foto aktivis HAM Munir Said Thalib dan banner yang bertulisan 'Bukti dan Saksi Masih Ada Jokowi Kemana?'.


Ekspresi massa Aksi Kamisan yang berdiri di pinggir jalan ini terlihat datar sambil memandang ke arah Istana Merdeka. Pada Aksi Kamisan hari ini, juga dilakukan diskusi oleh Perwakilan Aliansi Masyarakat Spill untuk Keadilan, Al Ghifari Aqsa, sebagai pembicara.

Dari kumpulan massa Aksi Kamisan ini, hadir juga Maria Catarina Sumarsih, ibunda Benardinus Realino Norma Irawan, mahasiswa Universitas Atma Jaya yang tewas saat tragedi Semanggi I. Dia menyinggung mengenai kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi) pada periode pertama massa jabatannya.

"Ya sebenarnya Pak Jokowi itu bohong. Ada hitam di atas putih di dalam visi-misi Jokowi-JK itu di butir FF bunyinya, 'kami berkomitmen menyelesaikan kasus pelanggaran HAM berat masa lalu', kasusnya disebut terus kemudian di butir DG nya, 'kami berkomitmen menghapus impunitas'. Tetapi kenyataannya sampai akhir periode nggak ada perkembangan apa-apa," kata Sumarsih di lokasi Aksi Kamisan di depan Istana Negara, Jalan Medan Merdeka Utara, Gambir, Jakarta Pusat, Kamis (3/10/2019).

Sumarsih menganggap Presiden Jokowi telah berbohong karena tidak menepati janji kampanyenya yang terangkum dalam visi misi Jokowi-JK atau biasa disebut Nawacita. Sumarsih merasa Presiden Jokowi tidak serius menyelesaikan kasus-kasus pelanggaran HAM dan berharap penanganan kasus pelanggaran HAM dapat lebih diperbaiki di waktu mendatang.

"Agar memutus rantai kekerasan, memutus pelanggaran HAM berat dengan membawa kasus-kasus pelanggaran HAM berat yang sudah diselidiki Komnas HAM saat ini segera ditindaklanjuti oleh Kejaksaan Agung. Jika terjadi pelanggaran HAM berat maka harus pemerintahan pak Jokowi itu membentuk pengadilan HAM ad hoc dari masing-masing kasus yang dinyatakan terjadi pelanggaran HAM berat," sambungnya.