Round-Up

Mempertanyakan Penangkapan Dandhy-Ananda Saat Gelap Gulita

Tim detikcom - detikNews
Jumat, 27 Sep 2019 22:15 WIB
Ananda Badudu setelah diperiksa polisi (Samsudhuha/detikcom)
Jakarta - Dandhy Laksono dan Ananda Badudu bisa jadi menjalani salah satu malam yang paling mencekam. Di tengah gelap gulita, keduanya diangkut aparat ke Polda Metro Jaya.

Dandhy Laksono dan Ananda Badudu secara berurutan ditangkap pihak kepolisian. Penangkapan dua mantan jurnalis di saat tengah malam dipertanyakan.

Nama pertama ditangkap polisi pada Kamis (26/9/2019) sekitar pukul 23.00 WIB. Sutradara film dokumenter 'Sexy Killers' tersebut kemudian ditetapkan sebagai tersangka dengan jeratan UU ITE.


"Twit 22 September terkait insiden di Jayapura dan Wamena. Hanya 1 twit yang dimasalahkan Polda Metro," kata kuasa hukum Dandhy, Alghiffary Aqsa, saat dihubungi, Jumat (27/9/2019).

Dandhy sendiri sudah kembali pulang. Pendiri Watchdoc itu diduga melanggar Pasal 28 ayat (2) juncto Pasal 45 A ayat (2) UU No 8 Tahun 2016 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik (ITE) dan/atau Pasal 14 dan Pasal 15 No 1 Tahun 1946 tentang hukum pidana. Polisi menyebut apa yang diunggah Dandhy ke media sosial terkait Papua belum tentu benar.

"Ya, saya ingin publik tetap fokus ke agenda yang lebih besar. Kasus saya nggak ada apa-apanya dan kecil dibandingkan persoalan di Papua, mahasiswa yang tewas karena menuntut reformasi yang dituntaskan," ujar Dandhy setelah kembali ke kediamannya, Jumat (27/9).

Adapun Ananda Badudu ditangkap setelah Dandhy. Eks vokalis Banda Neira itu ditangkap karena mentransfer dana untuk aksi mahasiswa di depan gedung DPR. Nanda, sapaan sang musikus, sempat melakukan aksi pengumpulan dana di situs kitabisa.



Sama seperti Dandhy, Ananda dijemput polisi di tengah gelap gulita. Dia diamankan sekitar pukul 04.28 WIB.

Penangkapan Dandhy dan Ananda di tengah gelap gulita dipertanyakan. Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan (Kontras) berbicara tentang kejanggalan terkait waktu penangkapan.

"Kalau dari sisi jam, ya janggal. Nggak baiklah. Tengah malam gitu kan kita kaya... kita kan berpikir buruk. Okelah kalau kita tahu itu polisi yang ngambil. Kalau sekiranya bukan, kan bisa berindikasi jadi korban orang hilang nanti," ujar Deputi Koordinator Kontras Feri Kusuma di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Selatan, Jumat (27/9).


Sekali lagi Feri mempertanyakan kenapa proses penangkapan dilakukan pada malam hari. Dia menilai ada waktu yang lebih baik dalam memproses hukum seseorang.

"Ya ini semestinya jangan sampai begini kalilah ya. Kan masih ada jam lain yang bisa ditangkap atau diproses, atau dipanggil dulu sebagai saksi bukan langsung penangkapan begitu. Apalagi penangkapan Dandhy tengah malam. Pemeriksaan tengah malam. Secara kesehatan nggak baik itu. Konsentrasi juga nggak maksimal," kata dia. (gbr/knv)