Potret Pendidikan Sekolah Dasar di Ujung Pulau Simeulue

Uji Sukma Medianti - detikNews
Kamis, 26 Sep 2019 22:42 WIB
Foto: Rifkianto Nugroho
Foto: Rifkianto Nugroho
Simeulue Cut - Simeulue Cut adalah salah satu kecamatan yang ada di Kabupaten Simeulue, Provinsi Aceh. Kecamatan Simeulue Cut terbagi menjadi dua wilayah, ada yang ditinggali oleh masyarakat ada juga yang terpisah dari daratan.

Dalam program Tapal Batas edisi Sinabang, tim detikcom berkesempatan untuk mengunjungi SD Negeri 3 Simeulue Cut. Di sekolah yang jumlah muridnya ada 68 siswa ini, anak-anak belajar dengan antusias.

Setidaknya, hal ini dapat dilihat dari semangat mereka ketika para anggota TNI AD setempat membagikan buku-buku pelajaran. Salah seorang guru di SDN 3 Simeulue Cut, Irhan, menuturkan anak-anak di sekitar sekolah belum semuanya bisa mengenyam bangku sekolah.



"Di sini memang jumlah muridnya sedikit karena memang satu desa paling banyak ada 200 KK saja," terangnya.

Ia menuturkan sekolah di Pulau ini sudah gratis. Hanya saja, murid-murid masih perlu biaya untuk membeli seragam dan peralatan sekolah lainnya. Hal ini lah yang akhirnya membuat tidak semua anak-anak di Kecamatan Simeulue Cut dapat bersekolah.

"Orang tua (anak-anak di sini) sampai rumah gak mau mendampingi (belajar), padahal jaraknya dekat. Kadang orang tua mau anaknya sekolah, tapi mereka harus mencari uang hari ini untuk makan besok," tuturnya.

Di sisi lain, tenaga pengajar di SDN 3 Simeulue Cut juga kurang. Irhan menyebut hanya ada 15 orang tenaga pengajar di sekolah ini. Delapan di antaranya sudah menjadi Pegawai Negeri Sipil (PNS). Sedangkan tujuh di antaranya adalah honorer. Ada juga guru yang statusnya hanya bakti murni alias magang. Mereka digaji menggunakan dana Bantuan Operasional Sekolah (BOS).

Dijelaskan Irhan, ia mengaku senang ada program tes pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja atau PPPK dari honorer K2. Namun hal itu diakuinya belum efektif menambah jumlah tenaga pengajar di Simeulue Cut.

"Jadi kalau di sini kebanyakan memang ada yang tes CPNS atau PPPK, tapi yang masuk adalah mereka yang asalnya dari Kota seperti Medan, Aceh dan lain-lain. Sehingga kalau sudah masuk jadi PNS mereka hanya bertahan dua tahun saja lalu pindah ke kota asal mereka," jelasnya.



"Itulah yang akhirnya membuat kami terus kekurangan tenaga pengajar," tambahnya.

Namun, dengan segala kekurangan yang ada, Irhan dan para guru lain mengaku tetap mengajarkan anak-anak semaksimal mungkin. Mulai dari membaca, menulis dan berhitung. Hal ini dilakukan demi memupuk mimpi anak-anak di pulau Simeulue Cut.

"Memang kalau di sini kan perlu bayar kecuali buat praktikum. Kami ingin supaya pemerintah bisa menyaring lebih banyak tenaga pengajar yang mau mengajar di sini. Kalau perlu yang diprioritaskan untuk jadi PNS atau PPPK adalah mereka yang memang orang asli Simeulue Cut," pungkasnya.

detikcom bersama Bank BRI mengadakan program Tapal Batas yang mengulas mengenai perkembangan infrastruktur, ekonomi, hingga wisata di beberapa wilayah terdepan. Untuk mengetahui informasi dari program ini ikuti terus berita tentang Tapal Batas di tapalbatas.detik.com! (ujm/ujm)