Ikan Impor dalam OTT Dirut Perum Perindo Berasal dari China

Zunita Putri - detikNews
Selasa, 24 Sep 2019 21:35 WIB
Ilustrasi KPK (Foto: dok. detikcom)
Jakarta - Direktur Utama Perum Perikanan Indonesia (Perum Perindo) Risyanto Suanda dijerat KPK terkait kasus dugaan suap impor ikan. Risyanto diduga bermain mata dengan perusahaan importir yang sudah masuk daftar hitam.

Atas kongkalikong itu, Risyanto diduga mendapatkan USD 30 ribu. Uang yang diimpor itu berjenis 'frozen pacific mackerel'. Dari negara mana ikan itu diimpor?

"Ya benar (dari China) untuk konteks perkara ini. Tapi kalau apakah semua impor ikan ini berasal dari Tiongkok (China), tentu di luar domain KPK untuk menjawab semua ini, tapi dalam konteks perkara ini, diduga impor berasal dari Tiongkok," kata Kabiro Humas KPK Febri Diansyah saat konferensi pers di gedung KPK, Jalan Kuningan Persada, Jakarta Selatan, Selasa (24/9/2019).




Meski begitu, Febri mengatakan KPK tidak menyoroti negara asal impor ikan itu. Saat ini, menurut Febri, KPK menaruh perhatian pada pencegahan agar kasus suap barang impor ini tidak ada lagi di Indonesia.

"Concern KPK adalah suapnya bisa saja berasal dari negara mana pun, ikannya tentu domain instansi lain ya, dan untuk mencegah pencurian ikan di luar negeri itu domain KPK, bahwa ini jadi trigger untuk kita agar lebih lanjut (mengawasi)," kata Febri.

Sementara itu, Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan KPK sering memberikan peringatan kepada BUMN agar tidak melakukan tindakan korupsi. Dia juga berharap agar pejabat BUMN mengubah perilaku mereka.

"Itu jadi perhatian KPK, makanya awal tahun mereka (BUMN) kami panggil, kami warning semuanya untuk kemudian mengubah perilaku bagaimana ini bisa meyakinkan stakeholder terkait untuk mengubah perilaku mereka," ucap Saut.




Dalam kasus ini, KPK menetapkan dua tersangka, yakni Direktur Utama Perum Perindo Risyanto Suanda dan pihak sebagai pemberi suap Direktur PT Navy Arsa Sejahtera (NAS) Mujib Mustofa. Perusahaan itu disebut sebagai importir ikan yang masuk daftar hitam sejak 2009. Namun Mujib memutar otak dengan mendekati Risyanto. Terjadilah kesepakatan jahat di antara keduanya.

"Saat itu disepakati bahwa MMU (Mujib Mustofa) akan mendapatkan kuota impor ikan sebanyak 250 ton dari kuota impor Perum Perindo," sebut Saut.

"Setelah 250 ton ikan berhasil diimpor oleh PT NAS, kemudian ikan-ikan tersebut berada di karantina dan disimpan di cold storage milik Perum Perindo. Berdasarkan keterangan MMU, hal ini dilakukan untuk mengelabui otoritas yang berwenang agar seolah-olah yang melakukan impor adalah Perum Perindo," imbuhnya. (dhn/fjp)