detikNews
Kamis 12 September 2019, 14:30 WIB

Marak Kecelakaan di Cipularang, Ombudsman Pertanyakan Kinerja Dirjen Hubdar

Yulida Medistiara - detikNews
Marak Kecelakaan di Cipularang, Ombudsman Pertanyakan Kinerja Dirjen Hubdar Ilustrasi Tol Cipularang (Foto: ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)
Jakarta - Akhir-akhir ini sering terjadi kecelakaan di Tol Cipularang. Ombudsman mempertanyakan kinerja Dirjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan dalam melaksanakan uji kelaikan kendaraan atau KIR.

"Dalam hal ini kami mempertanyakan efektivitas fungsi pengawasan dan pembinaan baik itu dari Direktorat Jenderal Perhubungan Darat maupun dari Dinas Perhubungan setempat," kata Anggota Ombudsman, Alvin Lie, di kantornya, Jl HR Rasuna Said, Jakarta Selatan, Kamis (12/9/2019).

Kecelakaan tersebut disebabkan kelebihan muatan hingga rem blong. Ombudsman menyoroti kinerja Dirjen Hubdar dan Dinas perhubungan terkait efektivitas uji KIR.



"Kita tahu semua mobil itu wajib menjalani pemeriksaan kelainan atau KIR, dalam hal ini kami mempertanyakan apakah KIR itu masih relevan? Apakah KIR itu benar-benar dilaksanakan untuk menjamin kelaikan jalan mobil atau sekadar formalitas? lampunya hidup tidak? Kemudian ada lampu sein dan sebagainya," ujarnya.



Dia mengatakan ada 3 faktor terjadinya kecelakaan, yakni kendaraan, kelalaian manusia dan jalan. Namun terkait kondisi jalan dia mempertanyakan kelengkapan rambu lalu lintas dan fasilitas yang ada.

"Unsur jalan ini tidak bisa banyak berubah, tapi kita bisa melihat apakah desainnya benar atau tidak, apakah rambu-rambunya benar atau tidak, apakah kondisi jalannya dipelihara dengan baik atau tidak. Apakah kondisi jalan itu juga dilengkapi misalnya dengan jalur penyelamat di mana ketika terjadi rem blong ada jalur penyelamat sebelah kiri untuk menghentikan mobil-mobil yang mengalami rem blong," ujarnya.



Selain itu dia juga menyoroti sopir yang memiliki SIM A umum atau SIM B umum. Ia mempertanyakan apakah para sopir juga dibekali pengetahuan bila menghadapi kondisi darurat dari para teknisi perusahaannya atau tidak.

"Apakah perusahaan perusahaan ini juga punya direktur teknik yang tugasnya bertanggung jawab atas kelaikan armada angkutnya, baik itu sopirnya maupun kernetnya. Apakah para driver ini juga dibekali ketika terjadi kondisi darurat apa yang harus dilakukan," kata Alvin.

"Saya yakin tidak semua perusahaan itu punya direktur teknik, pembekalan terhadap driver saya sangat meragukan hari ini. Paling-paling diuji bisa nyetir ya sudah jalan. Giliran sudah terjadi kondisi darurat mereka tidak tahu apa yang harus dilakukan," pungkasnya.
(yld/rvk)
Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com