Jika SBY Mau, Anggaran Kepresidenan Bisa Dikoreksi
Rabu, 26 Okt 2005 17:03 WIB
Jakarta - Anggaran kepresidenan sebesar Rp 727,2 miliar atau naik 57 persen yang menuai kritik masih bisa dikoreksi. Syaratnya, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mau melakukannya. Pengakuan SBY yang tak tahu kenaikan anggaran itu merupakan sikap yang konyol. Ketua Panitia Anggaran DPR Emir Moeis menyatakan, koreksi anggaran kepresiden masih bisa dilakukan jika Presiden berkenan. Dengan persetujuan presiden, panitia anggaran bisa memotong anggaran itu sebelum UU RAPBN 2006 disahkan pada sidang paripurna Jumat (28/10/2005) depan."Koreksi anggaran presiden bisa dilakukan lebih cepat jika Presiden yang melakukannya. Kita bisa juga sehingga defisit negara tidak usah terlalu besar," kata Emir di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Rabu (26/10/2005). Menurut Emir, sikap Presiden SBY yang menyatakan tidak tahu mengenai anggaran kepresidenan yang membengkak di tengah masyarakat yang krisis akibat BBM merupakan sikap yang konyol. "Kalau dia bilang tidak tahu, konyol dong namanya. Apa pun yang dilakukan kabinet dia penanggung jawab terakhir," kata Emir. Politisi dari PDIP ini menguraikan, anggaran kepresidenan berasal dari Setneg dan Bappenas. Kedua lembaga ini lantas menyampaikan anggaran ke Menkeu. Kemudian Menkeu menerima masukan dari berbagai pihak sebelum meneruskannya ke DPR. Jika presiden tak menghendaki koreksi anggaran kepresidenan, pengurangan anggaran itu akan sulit dilakukan. Celah yang memungkinkan untuk memotong anggaran kepresidenan yakni tekanan publik yang sangat besar. "Sulit dilakukan kecuali ada tekanan besar dari dengan cara mengurangi anggaran DPR dan pemerintanh secara bersama-sama," jelas Emir.Emir menilai pembahasan RAPBN 2006 dilakukan secara tergesa-gesa sehingga hasilnya tidak memuaskan. Dia memberi contoh proyek subsidi tunai langsung (SLT) sebesar Rp 5 triliun yang cuma digarap dalam waktu 3 bulan. Padahal di Meksiko, proyek serupa digarap dalam waktu 2 tahun."Kuncinya kalau segala sesuatu dikerjakan secara buru-buru tidak akan baik hasilnya," tandas Emir.
(iy/)











































