Laporan dari Madinah

Panas di Madinah Lebih Menyengat dari Mekah

Ardhi Suryadhi - detikNews
Sabtu, 24 Agu 2019 09:50 WIB
Hawa panas di Madinah lebih menyengat dibandingkan Mekah. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Hawa panas di Madinah lebih menyengat dibandingkan Mekah. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom
Madinah - Usai rangkaian puncak haji, jemaah perlahan mulai meninggalkan kota Mekah. Ada yang pulang ke Tanah Airnya, ada pula yang menuju Madinah.

Nah, bagi jemaah haji yang bergerak ke kota Madinah, sebaiknya memperhatikan soal satu ini, yakni cuaca!

Ya, sekilas suasana di Mekah dan Madinah mirip. Namun, jika diperhatikan lebih detail hawa panas di Madinah lebih menyengat dibandingkan Mekah.


Beberapa jemaah yang baru sampai di Madinah dari Mekah pun sudah merasakan ini. "Menyengat banget panasnya di Madinah," ujar seorang jemaah.

Kondisi Madinah yang lebih panas pun sejatinya sudah diwanti-wanti oleh jemaah yang masuk dalam gelombang pertama. Di mana ketika sampai di Tanah Suci, mereka lebih dulu mampir ke Madinah sebelum ke Mekah.

Dan 'peringatan' itu terbukti. Suhu udara di Madinah dalam beberapa hari terakhir bisa tembus di angka 44 derajat celcius, termasuk ketika jarum jam sudah bergerak ke sore hari sekitar pukul 16.00, hawa panas masih belum hilang.

Untuk menghindari paparan suhu panas, para jemaah pun harus melindungi dirinya dengan beragam penutup kepala, mulai dari payung, kacamata hitam hingga topi. Ketika berjalan di luar sudah pasti memilih untuk berlindung di bawah-bawah gedung.



'Saat masuk ke toko atau hotel adem, tetapi ketika di luar ruangan rasanya seperti di samping oven," kata seorang jemaah lain.

Ustaz Burhan Ali, pembimbing jemaah haji khusus Maktour, mengatakan bahwa secara geografis posisi kota Madinah memang lebih jauh dari pesisir pantai dibandingkan Mekah sehingga ketika musim panas bakal lebih panas, dan ketika musim dingin akan lebih dingin ketimbang Mekah.

Selain itu, kontur geografis Madinah juga lebih landai dengan banyak daratan. Makanya Madinah dulu banyak pepohonan dan perkebunan, dan terkenal sebagai penghasil penghasil buah-buahan terbesar termasuk unggulannya adalah kurma.

Di pelataran Masjid Nabawi pun hawa panas masih terjaga berkat payung-payung raksasa di sepanjang halaman.Di pelataran Masjid Nabawi pun hawa panas masih terjaga berkat payung-payung raksasa di sepanjang halaman. Foto: Ardhi Suryadhi/detikcom


"Jadi itu yang menyebabkan cuaca Madinah terkadang lebih ekstrim daripada Mekah. Walaupun demikian tetap banyak para jamaah lebih menyukai situasi kota Madinah yang lebih ramah, lebih teratur dan lebih tertib dibanding Kota Mekah itu sendiri." tukasnya.

Suasana di Masjid Nabawi yang menjadi pusat ibadah para jemaah selama di Madinah pun tak sepadat ketika di Masjidil Haram, Mekah.

Keramaian tentu masih ada, namun masih dalam taraf wajar. Tak ada pemblokiran akses masuk masjid ketika mendekati waktu salat wajib seperti halnya di Masjidil Haram.

Di pelataran Masjid Nabawi pun hawa panas masih terjaga berkat payung-payung raksasa di sepanjang halaman. Di banyak titik juga terdapat kipas angin yang menyemburkan air yang cukup membuat kepala jemaah menjadi segar.

Sementara di bagian dalam Masjid Nabawi kondisinya sangat sejuk. Pendingin udara dipasang untuk melingkupi seluruh isi ruangan. Ditambah lagi dengan karpet empuk membuat jemaah jadi nyaman dan khyusuk beribadah. (ash/aan)