Sebagian Besar Pengikut "Ajaran Ikat Kepala Putih" Peladang

Sebagian Besar Pengikut "Ajaran Ikat Kepala Putih" Peladang

- detikNews
Sabtu, 22 Okt 2005 20:40 WIB
Palu - Puluhan pengikut "ajaran ikat kepala putih dan selempang kuning" rata-rata adalah peladang di tanah-tanah subur kelompok Pegunungan Gawalise, 11kilometer arah barat Kota Palu, Sulawesi Tengah. Mereka adalah kelompok etnis Kaili dari sub etnis Unde. Sub etnis ini adalah suku asli di Sulawesi. Mereka menggunakan bahasa Unde, yang bermakna penyangkalan. Sebelum memeluk Islam, mereka adalah penganut animisme.Dulunya, mereka nomaden ataupun peladang berpindah. Namun sekarang mereka memilih menetap. Apalagi setelah aroma kemoderenan juga mulai tercium di sana. Mereka kini memiliki alat-alat elektronik semisal radio dan tape recorder dan punya alat transportasi seperti sepeda motor. Bahkan, televisi bukan barang aneh bagi mereka, sesekali mereka pun suka menonton Uka-Uka dengan tim Gentayangannya di TPI atau sinetron Hikmah 2 di RCTI. Namun, agar dapat menonton acara itu mereka harus turun ke dusun tetangga sebab, listrik dari Perusahaan Listrik Negara (PLN) belum sampai ke sana. Dalam satu kelompok permukiman, rata-rata tak lebih dari 100 kepala keluarga. Permukiman mereka berada sekitar 500-1000 meter di atas permukaan laut. Dari atas kampung Salena, hamparan laut Teluk Palu yang membiru begitu indah. Mereka rata-rata peladang. Ada pula yang memiliki kebun kakao, cengkeh dan tanaman keras lainnya. Ladang-ladang padi gogo rancah pun ada. Dulunya, jika ada di antara mereka yang meninggal, mereka pasti akan berpindah ke tempat lain. Namun kini sebagiannya sudah meninggalkan adat itu.Nah, di tempat dengan nuansa tradisional itulah Mahdi terlahir. Warga setempat, baik pemuda maupun orang tua menaruh hormat padanya. Sebab ia dikenal sebagai sando, tabib yang kerap menyembuhkan warga yang sakit. Tak ada yang tahu, kapan dia mulai menekuni ajaran yang diyakininya itu, Islam iya, Animisme pun iya."Saya ini sama-sama belajar salat dan mengaji dengan Mahdi, dia itu pintar. Dia sering sembuhkan orang sakit. Saya tidak tahu juga kenapa sekarang begini," ujar sepupu Mahdi, Tami. (ahm/)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads