Kilas Balik Cerita Pam Swakarsa yang Diungkit Kivlan Zen

Rakhmad Hidayatulloh Permana - detikNews
Selasa, 13 Agu 2019 09:13 WIB
Foto ilustrasi suasana 1998 (Dok)

Cerita soal Pam Swakarsa

Pam Swakarsa merupakan singkatan dari Pasukan Pengamanan Masyarakat Swakarsa. Merujuk pada buku 'Perang Panglima: Siapa Mengkhianati Siapa?' karya Femi Adi Soempeno, Pam Swakarsa ini dibentuk untuk mengamankan Sidang Istimewa MPR yang digelar pada November 1998. Masih merujuk pada buku tersebut, Pam Swakarsa ini terdiri dari beberapa ormas, di antaranya ialah Pemuda Pancasila, FKPPI, Pemuda Panca Marga, dan Banser.

Wiranto Memerintahkan Kivlan Zen Membentuk Pam Swakarsa

Berdasarkan arsip berita detikcom pada 09 Juni 2004, Kivlan mengaku diperintahkan oleh Wiranto untuk membentuk Pam Swakarsa. Kivlan juga keberatan dengan keterangan Wiranto di beberapa media, yang menyatakan dirinya masih menjabat Kepala Staf Kostrad kala itu. Dia mengaku sudah dicopot dari Kepala Staf Kostrad sejak 20 Juni 1998.

"Wiranto jelas telah mengaburkan dan memanipulasi informasi, seolah-olah saya ketika itu masih menjabat Kepala Staf Kostrad. Saya dipanggil Wiranto pada 4 November 1998 di Mabes ABRI jalan Medan Merdeka Barat sekitar pukul 15.30 WIB. Saat itu Wiranto meminta saya mengerahkan massa pendukung Sidang Istimewa, sambil mengatakan, ini perintah Presiden Habibie," tuturnya.

Dia juga menilai pernyataan Wiranto dalam buku 'Bersaksi di Tengah Badai' tentang kontroversi Pam swakarsa tidak benar. Di mana dalam buku itu digambarkan seolah-olah gerakan mendukung Sidang Istimewa murni inisiatif masyarakat.

Kivlan Diperintahkan Wiranto Meminta Dana

Merujuk pada buku 'Kesucian politik: Agama dan Politik di Tengah Krisis Kemanusiaan' karya Mutiara Andalas, Kivlan Zen diperintahkan oleh Wiranto untuk meminta dana akomodasi Pam Swakarsa ke Jimly Asshiddique selaku Staf Wakil Presiden saat itu dan pengusaha Setiawan Djodi.

Hal ini dikuatkan oleh arsip berita detikcom 9 Juni 2004. Kivlan mengaku mendapat Rp 1,25 miliar dari Jimly. Meskipun begitu, ternyata uang tersebut tidak cukup.

"Dana ini jelas tidak mencukupi. Karena untuk merekrut sekitar 30.000 orang untuk 8 hari dari tanggal 6-13 November 1998, dana yang kita habiskan mencapai Rp 7-8 miliar," ujar Kivlan saat itu.

Lalu, Kivlan diperintahkan oleh Wiranto untuk meminta sisa uang ke Habibie. Tapi menurut Habibie sisa uang tersebut sudah ada di Wiranto.

Kivlan Mengaku Rugi

Akibat kekurangan uang akomodasi ini, Kivlan mengaku menanggung rugi. Dia bahkan mengaku sampai harus menjual rumah dan mobil.

"Usaha ini gagal hingga tahun 2002. Sementara saya harus menjual rumah dan mobil untuk menutupi sebagian kecil tagihan, terutama dari rumah makan Padang, transportasi dan lain-lain," keluh Kivlan.
Halaman

(dnu/fjp)