PPP Bersyukur Prabowo Tinggalkan Penumpang Gelap yang Suka Fitnah-Hoax

Tsarina Maharani - detikNews
Minggu, 11 Agu 2019 13:02 WIB
Arsul Sani (Ari Saputra/detikcom)
Jakarta - PPP mensyukuri sikap Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto yang kini disebut-sebut sudah menyingkirkan penumpang gelap dalam pencapresannya pada 2019. Menurut PPP, langkah Prabowo sudah tepat.

"PPP bersyukur bahwa pascapilpres ini Pak Prabowo dan teman-teman Gerindra juga bersikap tegas terhadap mereka yang masih terus dengan agenda dan cara-cara mereka itu, yakni dengan meninggalkannnya. Mereka menjadi tidak memiliki patron politik pada level nasional yang seperti sosok Pak Prabowo tersebut," kata Sekjen PPP Arsul Sani kepada wartawan, Minggu (11/8/2019).


Arsul mengatakan sejak awal PPP memang melihat indikasi adanya kelompok yang memanfaatkan Pilpres 2019 untuk kepentingan lain. Kelompok tersebut, menurut dia, menyebarkan politik identitas yang disertai fitnah dan hoax.

"PPP melihat bahwa dalam pilpres kemarin memang terindikasikan dengan jelas bahwa terdapat kelompok yang memanfaatkan pilpres ini tidak sekadar sebagai sarana kontestasi politik untuk memperjuangkan cita-cita memperbaiki rakyat dan negara ini. Tapi juga memanfaatkannya untuk kepentingan lain di luar itu, seperti memaksakan ideologi dan sistem politik tertentu dengan cara mengembangkan politik identitas yang disertai dengan fitnah, hoax, dan ujaran kebencian," sebutnya.


Ia pun menyatakan isu-isu yang disebarkan kelompok tersebut sangat merugikan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Menurut Arsul, mereka tidak peduli terhadap perpecahan bangsa.

"Terutama terhadap Pak Jokowi dan partai Islam atau berbasis umat Islam yang mendukung Pak Jokowi, terutama PPP. Kelompok ini tampaknya tidak peduli apakah cara-cara mereka ini memecah belah dan menciptakan segregasi antar-elemen bangsa," ucap Arsul.

Politikus Gerindra Andre Rosiade menyebut penumpang gelap yang memanfaatkan Prabowo Subianto itu bertujuan membuat situasi Indonesia kacau. Penumpang gelap juga ingin Presiden Joko Widodo (Jokowi) disalahkan akibat kondisi itu.

"Orang itu ingin Indonesia chaos. Ingin Pak Jokowi disalahkan. Ingin Indonesia ini ribut. Pak Prabowo sebagai patriot dan negarawan menolak hal itu. Itulah penumpang gelap itu," kata Andre.


Soal penumpang gelap ini awalnya diungkapkan Waketum Gerindra Sufmi Dasco Ahmad. Dasco menyebut 'penumpang gelap' itu mencoba memanfaatkan Prabowo untuk kepentingan mereka. Namun, menurut dia, Prabowo kemudian mengambil tindakan karena sadar telah dimanfaatkan.

"Tadi dibilang soal 'penumpang gelap', bukan karena kita singkirkan. Prabowo jenderal perang, Bos, dia bilang sama kita, 'Kalau diadu terus, terus dikorbankan, saya akan ambil tindakan nggak terduga.' Dia banting setir dan orang-orang itu gigit jari," kata Dasco dalam pemaparan survei Cyrus Network di Hotel Ashley, Jakarta Pusat, Jumat (9/8).


Berkaitan dengan hal itu, Persaudaraan Alumni (PA) 212 tak merasa menjadi penumpang gelap seperti yang dimaksudkan Gerindra. Ketum PA 212 Slamet Maarif menegaskan perjuangannya bersama Prabowo pada Pilpres 2019 bukan semata-mata demi kekuasaan. Dia mengaku berjuang untuk menegakkan keadilan.

"Jadi kami yakin yang dimaksud Gerindra bukan kalangan kita dan ulama," kata Slamet, Jumat (9/8). (tsa/fjp)