Ketua RT yang Nekat Teguk Racun Telah Sehat
Jumat, 21 Okt 2005 11:18 WIB
Jakarta - Tuhan rupanya masih memberikan mukjizat kepada Nur Hasan. Meski sempat dirawat selama 6 hari, Ketua RT yang minum racun karena tak tahan diprotes warganya terkait penyaluran Subsidi Langsung Tunai (SLT) bahan bakar minyak (BBM) itu, kini telah sehat. "Sekarang bapak kondisinya sudah sehat wal afiat. Sudah bisa kerja lagi," kata Inih, istri Nur Hasan saat ditemui detikcom, di rumahnya, RT 2 RW 8 Kelurahan Pancoran Mas, Depok, Jumat (21/10/2005).detikcom tak berhasil menemui Nur Hasan di rumahnya. Ketua RT itu, menurut istrinya, berada di puncak, Bogor, Jawa Barat, untuk bekerja sebagai kuli bangunan. "Kemarin dia berangkat ke puncak buat kerja," kata Inih. Di rumah yang terdiri dari 3 ruangan itu, ruang tamu, kamar tidur dan dapur dengan kamar mandi itu, hanya ada istrinya, Inih, dan anak bungsu Hasan yang menderita tuna wicara. Meski dikeramik, rumah Hasan tampak kusam. Benda yang tampak menonjol di rumah itu hanya TV berukuran 17 inchi. Nur Hasan minum racun setelah disidang warganya yang memprotes penyaluran SLT BBM, pada 4 Oktober 2005 pukul 00.00 WIB. Menurut istrinya, Nur Hasan meneguk racun di rumah saudaranya, yang jaraknya sekitar 3 meteran dari rumahnya."Yang tahu keponakan saya. Dia teriak-teriak melihat bapak tergeletak di tanah dengan nafas tersengal-sengal," tutur Inih. Nur Hasan kemudian dibawa ke Rumah Sakit (RS) Bhakti Yuda Depok dengan naik becak. Hasan dirawat di RS itu selama 6 hari. Hingga sehat kembali, Inih mengaku tak tahu persis mengapa suaminya bisa senekat ini. Ibu tiga anak itu menduga suaminya mungkin tertekan karena protes warga. Dia mengakui banyak warga yang tidak suka kepada suaminya terkait SLT. Namun dia menganggap protes warga masih wajar. "Memang ada yang nggak suka karena tak dapat kompensasi terus ngomong pedas sama dia," kata Inih.Sudah Lama JengkelBeberapa warga mengaku sudah lama jengkel dengan Nur Hasan. Warga mencurigai Hasan sebagai Ketua RT sering menggunakan dana warga untuk kepentingannya sendiri. Kejengkelan warga bermula saat penggalangan dana untuk penyemprotan Demam Berdarah Dengue (DBD). "Ternyata uang yang ditarik dari warga RT 02 lebih mahal daripada RT 01. Kami bayar Rp 7 ribu, padahal RT 1 cuma Rp 5 ribu," kata Maria, salah satu tetangga Hasan. Warga makin jengkel terhadap Hasan setelah mengetahui jumlah penerima SLT hanya 6 orang. Padahal di RT sebelahnya yakni RT 1, penerima SLT mencapai 16 orang. "Kita curiga jangan-jangan uangnya dia pakai soalnya kan keluarga dia juga kekurangan," kata Maria. Karena jengkel, sejumlah warga sering bersikap sinis kepada Hasan. Puncaknya, tanggal 4 Oktober 2005, warga lantas mendatangi rumah Hasan untuk meminta penjelasan penerimaan SLT. "Kita sinisi dia maksudnya agar dia sadar, tapi kok malah masuk RS," cetus Maria.
(iy/)











































