Sopir Taksi Online di Salemba Protes Perluasan Ganjil Genap

Farih Maulana Sidik - detikNews
Rabu, 07 Agu 2019 14:55 WIB
Kawasan Salemba yang akan diterapkan ganjil-genap. (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Kawasan Salemba yang akan diterapkan ganjil-genap. (Farih Maulana Sidik/detikcom)
Jakarta - Pembatasan kendaraan bermotor di DKI Jakarta dengan sistem ganjil-genap diperluas ke sejumlah ruas jalan. Kebijakan itu disebut tidak efektif bagi sopir taksi online di Salemba, Jakarta Pusat.

Seorang sopir taksi online bernama Purwanto (26) mengatakan perjalanannya mencari dan mengantar penumpang akan terhambat. Menurutnya, dengan adanya jalur ganjil-genap, rute yang harus ditempuh akan menyulitkan.

"Kalau buat saya sebagai sopir online ya pasti banyak ruginya. Jadi nggak bisa ke mana-mana gitu loh, yang seharusnya bisa narik ke sini bisa keganjal sama ganjil-genap itu. Jadi terbatas sama perjalanannya," ujar Purwanto saat ditemui detikcom di Jl Salemba Raya, Senen, Jakarta Pusat, Rabu (7/8/2019).


Wacana pemerintah memperluas ganjil-genap untuk mengurangi polusi udara memang dirasa positif. Namun, kata Purwanto, tetap akan banyak ruginya bagi kebanyakan sopir taksi online.

"Kalau positifnya ada, buat mengurangi polusi. Tapi ya buat pekerja sopir online kayak saya ya pasti susah nyarinya, yang tadinya bisa lewat sini (Salemba) jadi nggak bisa. Harus muter jalan, harus pilih-pilih jalur," katanya.


Senada dengan Purwanto, seorang karyawan Swasta bernama Rafi Abdullah (31) menyebut wacana itu tidak efektif lantaran jalur yang biasa dilaluinya bukan jalan protokol.

"Bagi saya, kalau jalur Pramuka, Salemba, apalagi Rawasari, jangan lah ya. Yang protokol aja lah bagi saya ganjil-genap gak papa kayak Sudirman, Monas, Rasuna Said, tapi jalur ini jangan lah," katanya.

Selain memakan waktu yang lama untuk berputar arah, jika ganjil-genap diterapkan di Jalan Pramuka, Jalan Salemba Raya, Jalan Kramat Raya, akan banyak merugikan sopir taksi online. Ragi menyebutkan, jika ditotalkan, dalam sehari dia akan kehilangan penghasilan hingga Rp 1.000.000.

"Karena kita yang nge-Grab, saya sendiri nge-Grab ya itu memakan waktu dan rutenya jauh juga untuk muternya. Rugi bensin, rugi waktu juga. Kalau dihitung-hitung kalkulasi kita hampir sejuta hilang penghasilan kita dalam 1 hari," jelas Rafi.


Rafi memandang penerapan ganjil-genap untuk tujuan mengurangi polusi udara di Jakarta harus sebanding dengan produksi kendaraan. Rafi menyatakan pemerintah harus menekan angka produksi kendaraan.

"Kalau mengurangi polusi udara, ya, sebaiknya kurangi juga produksi mobil baru, motor baru. Sekarang DP murah aja udah bisa tuh. Itu kurangi juga dong, kalau mau kurangi polusi udara, rem juga tentang produksi motor dan mobil," pungkasnya.


Soal Perluasan Ganjil Genap di Jakarta, Djarot Beri Wejangan:

[Gambas:Video 20detik]

(fdu/fdu)