Jelang Arafah, Hujan Guyur Mekah

ADVERTISEMENT

Laporan dari Mekah

Jelang Arafah, Hujan Guyur Mekah

Ardhi Suryadhi - detikNews
Selasa, 06 Agu 2019 09:42 WIB
Hujan turun di Mekah. (Ardhi Suryadhi/detikcom)
Mekah - Di tengah panas terik sepanjang hari, Kota Mekah tiba-tiba mendapat berkah hujan. Suasana sejuk pun terasa untuk mengiringi langkah jemaah haji dalam beribadah.

Hujan turun pada Senin (6/8/2019) sekitar pukul 3 dini hari dengan intensitas ringan. Meski demikian, hal ini tak lantas membuat ciut nyali jemaah untuk beranjak menuju Masjidil Haram guna melaksanakan salat malam, menjalani ritual umrah, atau bersiap salat Subuh.

Sebaliknya, hawa sejuk begitu didambakan jemaah meskipun beberapa di antaranya terlihat sedikit kebasahan lantaran cuma menutup kepala dengan sajadah atau sorban.



Pengalaman detikcom sendiri, cuaca Kota Mekah beberapa hari terakhir di bulan Agustus ini selalu berada di atas 40 derajat Celcius. Bahkan beberapa orang yang ditemui punya kekhawatiran bisa sampai 50 derajat Celsius. Karena itu, ketika berjalan keluar dari hotel, jemaah sangat dianjurkan membawa pelindung kepala, payung, kacamata hitam, serta sering-sering minum air.

Hujan tak lantas membuat kecut jemaah menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan salat malam, menjalani ritual umroh atau bersiap salat Subuh.Hujan tak lantas membuat ciut nyali jemaah menuju Masjidil Haram untuk melaksanakan salat malam, menjalani ritual umrah, atau bersiap salat Subuh. (Ardhi Suryadhi/detikcom)


Hal ini untuk menangkal dehidrasi dan heat stroke. Gelombang panas bisa berbahaya menyebabkan kondisi heat stroke. Ini terjadi ketika tubuh tidak mampu mengendalikan suhu internal, yang normalnya sekitar 37 derajat Celsius.


Gejala heat stroke termasuk kurangnya keringat, pusing, mual, dan muntah-muntah. Heat stroke menyebabkan kulit memerah dan mempercepat kerja nadi. Jika tidak ditangani dengan cepat, heat stroke dapat mengakibatkan kematian atau cacat permanen.

Maka dari itu, jemaah haji perlu berhati-hati. Terlebih tak lama lagi merupakan puncak haji, 9-14 Agustus 2019, yang dimulai dengan melaksanakan wukuf di Arafah. Kegiatan ini memerlukan kekuatan fisik yang ekstra.

Kembali ke soal hujan. Menurut petugas biro perjalanan Maktour yang mendampingi jemaah haji khusus Indonesia, menjelang agenda wukuf di Arafah memang kerap kali jemaah mendapat berkah curahan hujan walaupun sepanjang hari cuaca panas terik begitu terasa sampai ke kulit.

"Jadi ibarat berkah bagi jemaah, jadi adem hawanya. Bahkan pernah ketika tenda dan karpet sudah siap untuk wukuf di Arafah, tiba-tiba hujan besar disertai angin datang," ujarnya.

"Tapi tak apa-apa, meski jadi basah semua, kita anggap ini berkah dan bisa dibangun lagi sesuai jadwal," pungkasnya. (ash/aan)

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT

ADVERTISEMENT