Laporan Dari Moskow

Dari Bantar Gebang ke Rusia

Marlinda Oktavia Erwanti - detikNews
Senin, 05 Agu 2019 03:24 WIB
Foto: Marlinda Octavia/detikcom
Moskow - Ada yang berbeda di Festival Indonesia di Moskow, Rusia tahun ini. Stan dari Bantar Gebang berdiri di tengah-tengah jejeran stan lainnya.

Java International 'We Care For Bantar Gebang' nama stan itu. Beragam souvenir seperti tas, lukisan hingga miniatur dipajang dalam stan itu. Bahan dasar yang digunakan pun dari biji kopi, kain perca hingga limbah sampah plastik.

Usut punya usut, UMKM dari Bantar Gebang itu merupakan binaan Dubes RI untuk Rusia, Mohamad Wahid Supriyadi. Wahid mengatakan pembinaan kepada warga daerah kumuh itu dilakukannya sejak tahun 2008.

Tujuannya, kata dia, untuk mengubah nasib warga Bantar Gebang salah satunya melalui pendidikan. Sebab, banyak warga yang mengabaikan pendidikan dan lebih memilih untuk meneruskan pekerjaan sebagai pemulung.

"Bantar Gebang ini sejak saya di Abu Dhabi kita selalu fundraising untuk Bantar Gebang. Kita ingin buat sesuatu yang bermanfaat. Kita maunya yang jadi pemulung anaknya nggak jadi pemulung lagi," kata Wahid di Krasnaya Presnya Park, Moskow, Rusia, Minggu (4/8/2019).



Wahid mengatakan sengaja menyediakan satu booth untuk anak-anak binaannya itu. Selain untuk menunjukkan hasil karya dari anak Bantar Gebang ke seluruh dunia, dia juga ingin memberi contoh kepada warga Bantar Gebang.

"Ini salah satu anak Bantar Gebang juga kami ajak ke sini. Dia ini bapak ibunya pemulung. Dia mendapat beasiswa di Universitas Jayabaya. Waktu itu saya ke sana, saya bicara dengan ibu-ibu mereka karena kalau sudah gede biasanya disuruh jadi pemulung," tuturnya.

"Saya bilang masak sih bu anak pemulung jadi pemulung. Saya dulu juga dari orang nggak punya, tapi karena pendidikan saya bisa jadi Dubes," sambung Wahid.

Wahid menuturkan sejak saat itu, dirinya dan rekan-rekannya terus melakukan binaan kepada anak-anak dan warga Bantar Gebang. Salah satunya dengan mengajarkan membuat karya seni seperti lukisan dari kopi, tas, hingga berternak lele di sana.

"Hasilnya untuk mereka. Biar mereka mandiri dan memiliki kegiatan lain selain memulung," kata dia.

Hal senada juga disampaikan salah satu orang tua angkat dari anak Bantar Gebang, Sylvia Jenkins. Dia berharap dengan berpartisipasinya anak binaannya di Bantar Gebang, akan dapat memberi contoh kepada warga lainnya yang masih belum sadar akan pentingnya pendidikan.

"Karena banyak yang masih abai dengan pendidikan. Jadi pada nggak mau dan nggak ngebolehin anaknya ikut dibina. Dengan ini kami berharapnya banyak lagi yang termotivasi untuk ikut dan mementingkan pendidikan di sana," ujar Sylvia.



Sementara Fitri, salah satu anak binaan mengaku bangga dan terharu bisa sampai ke Moskow dan ikut Festival Indonesia. Dia berharap teman-temannya di Bantar Gebang akan mengikuti jejaknya.

"Saya nggak nyangka bisa sampai ke sini. Hasil karya saya juga bisa dipamerkan di Moskow," kata gadis yang mendapat beasiswa di Universitas Jayabaya itu.

Hari ini, anak-anak Bantar Gebang juga mendapatkan sumbangan dari Himpunan Persaudaraan Islam Indonesia (HPII) di Moskow. Total sumbangan yang diberikan sebesar 1.000 USD.

"Sumbangan ini untuk anak-anak dan warga Bantar Gebang. Untuk pendidikan untuk mereka berusaha," ujar Ketua HPII, Fauzi Bustami. (mae/dwia)