Dua Pesantren Apa yang Diminta Kalla Diawasi?
Kamis, 20 Okt 2005 11:35 WIB
Jakarta - Wakil Presiden (Wapres) Jusuf Kalla telah meluruskan pernyataannya tentang pembatasan dan pengawasan pesantren terkait pemberantasan terorisme. Dia mengatakan, hanya sekitar dua pesantren yang perlu diawasi. Dua pesantren apa yang dimaksud Kalla? Kalla mengaku telah memerintahkan Menteri Agama Maftuh Basyuni untuk mengawasi dua pesantren itu. "Tapi, hasilnya belum dilaporkan," kata Kalla kepada wartawan seusai buka puasa bersama di Istana Wapres, Jl. Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Rabu (20/10/2005) malam. Namun, Kalla tidak menyebutkan nama dua pesantren itu. Dia hanya menyatakan, dua pesantren itu beraliran keras. Bahkan, Kalla memberikan sinyal untuk menutup dua pesantren itu. Kalla mencontoh sikap pemerintah Yaman yang berani menutup pesantren-pesantren beraliran keras. Meski tidak disebutkan nama dua pesantren itu, selama ini dua pesantren yang kerap dituding dan diarah-arahkan dengan terorisme adalah Pesantren Al Islam, Tenggulungan, Lamongan, dan Pesantren Al Mukmin, Ngruki, Sukoharjo. Sejumlah pelaku terorisme memang ada yang pernah aktif di dua pesantren. Trio Tenggulun, Amrozi, Ali Imron, dan Muklas, yang menjadi pelaku bom Bali, sangat dekat hubungannya dengan Ponpes Al Islam. Bahkan, hingga saat ini, ponpes ini juga masih diasuh oleh saudara-saudara Amrozi. Ponpes Al Islam belum lama berdiri. Pimpinan pondok ini adalah Ustad Zakaria, yang alumnus Ponpes Ngruki. Beberapa kali, dalam acara wisuda santri, pimpinan pondok mendatangkan pembicara ustad dari Ngruki, termasuk Abu Bakar Ba'asyir. Yang paling terlihat berbeda dengan pesantren-pesantren lain di Indonesia, Ponpes Al Islam ini mewajibkan para santri perempuan mengenakan cadar. Sementara Ponpes Al Mukmin, Ngruki, merupakan pesantren yang sudah cukup lama berdiri, sejak tahun 1970-an. Ponpes ini cukup terkenal, apalagi pada zaman Orde Baru, para intelijen dan TNI selalu mengawasinya. Ini gara-gara ponpes ini berseberangan dengan Presiden Soeharto dan dianggap tidak kooperatif. Salah satu kasus yang mencuat ke permukaan adalah kasus penolakan asas tunggal oleh pendiri ponpes, Ustad Abu Bakar Ba'asyir dan Ustad Abdullah Sungkar. Dua kiai kharismatis di Solo ini sudah kerap masuk penjara. Sejumlah pelaku terorisme memang ada yang menjadi alumni atau pernah nyantri di ponpes yang tidak mengenal kata 'kiai' ini. Beberapa di antaranya adalah Fathurrohman Al Ghozi, Muklas, Asmar Latinsani, dan Utomo Pamungkas. Tapi benarkah Ponpes Ngruki mengajarkan kekerasan? Bisa dipastikan tidak. Ponpes ini memiliki ribuan santri. Bisa dihitung dengan jari berapa santri yang terjerumus dalam tindak terorisme. Padahal, masih sangat banyak santri alumni ponpes ini yang berdakwah dengan santun, menjadi profesional, politisi, pengusaha, ulama, bahkan pejabat negara. Alumni yang menjadi pegawai negeri juga cukup banyak. Alumni yang mendapat beasiswa ke luar negeri dengan biaya pemerintah juga ada. Ponpes Ngruki bahkan sangat demokratis dalam memberikan pengajaran. Beberapa ustad merupakan alumni Ponpes Darussalam, Gontor. "Kita berpaham berbeda dengan ustad saja boleh," kata Umar, alumnus Ngruki kepada detikcom, Kamis (20/10/2005). Di ponpes ini, santri perempuan juga diperbolehkan mengenakan jilbab yang beragam. Ada yang mengenakan jilbab lebar, jilbab kecil, ada juga yang mengenakan cadar. Hasil penelitian Departemen Agama (Depag) pada Januari-Desember 2003 menunjukkan Ponpes Ngruki tidak terlibat sedikit pun dalam aksi terorisme. Hasil penelitian ini telah dipublikasikan oleh Kepala Badan Penelitian dan Pengembangan Depag, Atho Muzhar, pada 4 November 2004 lalu. Menurut Atho, penelitian dilakukan dengan pendekatan kualitatif fenomenologi politik. Penelitian dilakukan dengan pengamatan, wawancara, dan studi mendalam terhadap dokumen penting. "Data-data yang diperoleh kemudian diklarifikasi dan dianalisis secara holistik sesuai jenis data dan sifat masalahnya," ujar Atho. Hasil penelitian Depag juga menyimpulkan Ponpes Al Islam juga tidak terkait dengan ajaran terorisme. Memang, tidak ada habisnya membicarakan Pesantren Ngruki. Meski Depag sudah menyimpulkan bahwa pesantren itu tidak terkait terorisme, namun masih saja ada pihak-pihak yang menginginkan Ngruki ditutup. Sumber detikcom menyebutkan, wacana penutupan Ngruki sempat dibahas oleh Menko Polhukam Widodo AS beberapa bulan lalu. Informasi pembahasan Pesantren Ngruki dalam rapat koordinasi (Rakor) Polkam ini juga akhirnya sampai ke telinga para alumni Ngruki. "Ketua alumni langsung mengkonfirmasi ke Polhukam, dan ternyata kesimpulan akhir, tidak ada penutupan pesantren Ngruki," tutur sumber tersebut. Apakah dua pesantren ini yang diminta diawasi oleh Kalla?
(asy/)











































