Saddam Mulai Diadili, Reaksi Warga Irak Campur Aduk
Rabu, 19 Okt 2005 10:55 WIB
Jakarta - Reaksi warga Irak campur aduk atas dimulainya persidangan terhadap mantan presiden mereka, Saddam Hussein. Ada yang membela mantan diktator Irak itu dan mengecam pengadilan yang mengadilinya. Namun ada pula yang gembira dengan diadilinya Saddam."Bagaimana Saddam bisa mendapat pengadilan yang adil kalau tidak ada pemerintahan di Irak? Bagaimana bisa mereka mengadili dia?" tanya Ismail Makki, warga Syiah Irak yang mengungsi ke Amman, Yordania."Tidak ada air, listrik atau keamanan. Kalau dia masih berkuasa, pasti akan lebih baik bagi kami," cetusnya seperti diberitakan kantor berita Associated Press, Rabu (19/10/2005).Pembelaan senada juga dicetuskan seorang ahli kimia Irak, Taher Al-Sahab. "Dia tidak bersalah. Dia tidak akan mendapat pengadilan yang adil di Irak," tuturnya.Ketika ditanya mengenai pembantaian ribuan warga Syiah selama 23 tahun kepemimpinan Saddam, Al-Sahab berdalih, "Sekarang justru lebih banyak warga Syiah yang tewas dalam bom-bom bunuh diri."Namun tidak semua warga Irak berpikiran serupa. Nura, perempuan Syiah yang juga mengungsi ke Yordania mencetuskan bahwa dirinya ingin agar Saddam mati atas kejahatannya. "Saya ingin membunuh Saddam, semua orang menginginkan itu," ujarnya ketus. "Rakyat Irak hancur karena dia," imbuhnya.Kekesalan serupa diungkapkan Badr al-Shatti, seorang pegawai negeri berusia 40 tahun dari Kuwait, negara yang pernah diinvasi dan diduduki pasukan Irak selama 7 bulan pada awal tahun 1990-an. Menurutnya, Saddam pantas menerima lebih dari sekadar pengadilan. "Kepala dia seharusnya dipenggal atau dia harusnya ditembak," cetusnya.Saddam dan tujuh anggota rezimnya mulai disidang pada hari Rabu (19/10/2005) ini di pengadilan Irak. Mereka dikenai tuduhan pembantaian rakyat Syiah di kota Dujail, sebelah utara ibukota Baghdad pada tahun 1982 silam. Jika terbukti bersalah, Saddam bisa dihukum mati.
(ita/)











































