Ingin Jadi Ketum Golkar, Bamsoet Ingin Teruskan Cita-cita Akom

Audrey Santoso - detikNews
Minggu, 28 Jul 2019 17:48 WIB
Bamsoet (Foto: Lamhot Aritonang)
Jakarta - Wakil Ketua Korbid Pratama Partai Golkar, Bambang Soesatyo (Bamsoet), menghadiri Rapat Pimpinan Nasional (Rapimnas) II Soksi 2019 sebagai bakal calon ketua umum Partai Golkar. Bamsoet mengaku keinginannya memimpin partai berlambang pohon beringin itu agar dapat meneruskan cita-cita rekannya, Ade Komarudin (Akom).

"Kalau saya berada di depan sini dan telah menyatakan maju sebagai calon Ketua Umum Partai Golkar ini karena saya ingin meneruskan cita-cita Pak Akom yang belum kesampaian," kata Bamsoet di Hotel Kartika Chandra, Jalan Gatot Subroto, Jakarta, Minggu (28/7/2019).




Bamsoet mengatakan pada Akom, yang turut hadir di lokasi, agar tak perlu khawatir. Bamsoet menyatakan akan berjuang untuk kejayaan Soksi dan Partai Golkar di masa mendatang.

"Kang Akom tidak perlu ragu, kami akan berjuang untuk kejayaan Soksi ke depan. Kalau Soksi ingin berperan besar kepada Golkar dan bangsa ini, kita harus maju dengan kekuatan penuh, tidak boleh tercerai berai. Kita gaspol," ucap Bamsoet.


Bamsoet beri sambutan di Rapimnas III Soksi.Bamsoet beri sambutan di Rapimnas Soksi. (Foto: Audrey Santoso/detikcom)


Setelah kalimat pembuka, Bamsoet memberikan materi pada peserta rapat tentang kondisi politik terkini. Mulai dari dinamika sosial saat Pemilu 2019 dan momen politik yang terjadi belakangan.

"Mengapa kontestasi Pilpres 2019 melahirkan pertarungan yang sengit dan membelah masyarakat kita? Pertama, karena kandidat sendiri terdiri dari dua pasangan calon, sehingga menggiring terbelah menjadi dua kelompok. Kedua, berkembangnya politik identitas yang berbasis agama. Di mana politik identitas muncul dalam pilgub DKI Jakarta dua tahun yang lalu dan menemukan jejaknya dalam Pilpres yang lalu. Ini juga menjadi pemikiran bersama kita," ujar Bamsoet.




Bamsoet menerangkan, pertemuan Ketua Umum Gerindra Prabowo Subianto dengan kelompok lawan politiknya di Pilpres 2019 seperti Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri adalah gambaran Prabowo telah kembali pada jati dirinya. Dan saat ini, lanjut Bamsoet, ancaman yang nyata bagi bangsa Indonesia adalah penyebaran paham radikalisme.

"Pak Prabowo telah kembali kepada jati dirinya sebagai seorang prajurit dan sekarang para pengikut-pengikut yang terpapar sedang mencari bentuk yang lain. Triliunan rupiah sudah keluar dari kocek APBN kita, tapi ancaman begitu nyata. Memang demokratis, tapi ancaman radikalisme dengan menunggangi demokrasi yang kita laksanakan juga sangat bahaya kalau tidak segera dicegah," terang Bamsoet.

"Menyadari adalah adanya ancaman perpecahan, Presiden Jokowi berupaya melakukan langkah-langkah rekonsiliasi untuk menenangkan keadaan di masyarakat. Cara yang paling ampuh adalah dengan bertemu Prabowo sebagai lawan politiknya, dengan begitu para pendukung akan cooling down, masyarakat akan tenang dan teduh kembali," imbuh Bamsoet.

Masih soal kondisi politik terkini, Bamsoet menyinggung soal isu yang beredar tentang isu Gerindra akan bergabung pada Pemerintah.

"Pertemuan Pak Jokowi dan Pak Prabowo tidak berhenti sampai di situ, tetapi melahirkan spekulasi terkait bergabungnya Gerindra dalam pemerintahan jilid II, dalam konteks membangun kebersamaan dan kesatuan bangsa, sepertinya bagus-bagus aja. Tapi semua berpulang pada kalkulasi politiknya Pak Presiden sendiri," sambung dia.




Dia juga menyebut Partai Amanat Nasional (PAN) dan Partai Demokrat, dua partai pendukung Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, telah mendekati Jokowi lebih dulu setelah pemungutan suara Pilpres 2019 selesai.

"Sementara dari jauh hari PAN dan Demokrat telah mendekat kepada Jokowi sebagai pemenang Pilpres. Perkembangan politik Jalan dinamis. Setelah pertemuan 4 pimpinan partai politik kantor Pak Surya Paloh (Ketum NasDem), Partai Golkar, Nasdem, PKB dan PPP. Yang menarik pertemuan tersebut tidak dihadiri ketua umum PDIP sehingga menimbulkan spekulasi keretakan di KIK (Kabinet Indonesia Kerja). Tapi itu telah dibantah presiden dan seluruh anggota koalisi KIK," jelas Bamsoet.

Menurut Bamsoet, isu keretakan koalisi pendukung Jokowi semakin mencuat setelah Megawati melakukan pertemuan dengan Prabowo.

"Spekulasi keretakan KIK makin menguat setelah Megawati bertemu Prabowo dan pada waktu bersamaan Pak Surya Paloh bertemu dengan Anies Baswedan. Pertemuan pertama memberi angin bergabungnya Gerindra dalam Koalisi Indonesia kerja. Sementara pada pertemuan kedua memberi kesan tambahan anggota kaolisi," tutur Bamsoet. (aud/zak)