detikNews
Rabu 24 Juli 2019, 14:07 WIB

Pasutri Bomber Gereja Filipina Pernah Dagang Nasi Kuning di Makassar

Muhammad Taufiqqurahman - detikNews
Pasutri Bomber Gereja Filipina Pernah Dagang Nasi Kuning di Makassar Ilustrasi Teroris (Luthfy Syahban/detikcom)
Makassar - Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, pasangan suami-istri pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral di Pulau Jolo, Filipina, berasal dari Makassar, Sulsel. Rullie diketahui sempat berdagang nasi kuning dan menjadi sales jual-beli mobil.

"Rullie ini penjual nasi kuning. Hari-hari kita di sini ketemu, karena dia sering sembahyang di sini," kata Munadi, yang bertetangga dengan Rullie, kepada detikcom di Kabupaten Gowa, Sulsel, Rabu (24/7/2019).

Munadi mengatakan pertemuan pertamanya dengan Rullie sekitar 2015. Sebelum berjualan nasi kuning, dia sempat bekerja sebagai sales penjualan mobil di Makassar.

"Yang saya tahu awalnya dia kerja di dealer mobil lalu menjadi penjual nasi kuning di dekat SMA Rajawali," ungkapnya.

Selama berkenalan dengan Rullie, beberapa kali Munadi melihat bapak tiga anak ini yang sering melakukan pengajian bersama rekan-rekannya.


"Kadang-kadang juga itu ada teman temannya pengajian dari Jalan Petteran, Makassar. Dia juga biasa pergi Malino untuk pengajian," terangnya.

"Pertama kali mengenal ya biasa-biasa saja, tidak ada kecurigaan. Orangnya pun sering bergaul, kalau kita bercanda ya tertawa juga. Orangnya biasa biasa juga kalau kita sapa. Kita biasa sering cerita masalah jualan," Imbuhnya.

Dia pun tidak menyangka bahwa Rullie bersama istrinya menjadi pelaku bom bunuh diri di Filipina pada Januari 2019.

Sebelumnya, pasangan bomber ini meninggalkan Tanah Air sejak Desember 2018. Dengan dibantu terduga teroris asal Makassar, Andi Baso, pasutri ini masuk ke Filipina secara ilegal.

"Mereka masuk bulan Desember 2018, dibawa oleh Andi Baso," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/7/2019).


Dedi menerangkan, Andi Baso tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO) dan diyakini berada di Filipina Selatan saat ini. Andi Baso diduga terlibat dalam serangan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada November 2016.

"(Serangan bom) bersama terduga teroris Juanda dan kawan-kawan," ucap Dedi.
(fiq/rvk)


Kontak Informasi Detikcom
Redaksi: redaksi[at]detik.com
Media Partner: kerjasama[at]detik.com
Iklan: sales[at]detik.com