Pasutri Bomber Gereja Katedral Jolo Tinggal di Filipina Akhir 2018

Pasutri Bomber Gereja Katedral Jolo Tinggal di Filipina Akhir 2018

Audrey Santoso - detikNews
Rabu, 24 Jul 2019 12:47 WIB
Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo (Agung Pambudhy/detikcom)
Karo Penmas Mabes Polri, Brigjen Dedi Prasetyo (Agung Pambudhy/detikcom)
Jakarta - Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh, pasangan suami-istri pelaku bom bunuh diri Gereja Katedral di Pulau Jolo, Filipina, diketahui meninggalkan Tanah Air sejak Desember 2018. Dengan dibantu terduga teroris asal Makassar, Andi Baso, pasutri ini masuk ke Filipina secara ilegal.

"Mereka masuk bulan Desember 2018, dibawa oleh Andi Baso," kata Karo Penmas Divisi Humas Polri Brigjen Dedi Prasetyo di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Rabu (24/7/2019).


Dedi menerangkan Andi Baso tercatat dalam daftar pencarian orang (DPO) dan diyakini berada di Filipina Selatan saat ini. Andi Baso diduga terlibat dalam serangan bom di Gereja Oikumene, Samarinda, Kalimantan Timur, pada November 2016.

"(Serangan bom) bersama terduga teroris Juanda dan kawan-kawan," ucap Dedi.

Polri sebelumnya mengumumkan pihaknya telah berhasil melakukan identifikasi terhadap pelaku bom bunuh diri di Gereja Katolik, Pulau Jolo, Filipina. Pelaku adalah dua orang warga negara Indonesia (WNI).


Rullie Rian Zeke dan Ulfah Handayani Saleh merupakan deportan dari Turki pada Januari 2017. Dia menjelaskan awalnya Polri dan kepolisian Filipina hanya mengantongi hasil pemeriksaan lima tersangka bom bunuh diri yang menginformasikan pelaku diduga WNI.

Identitas kedua pasutri pelaku bom bunuh diri terungkap setelah penangkapan anggota JAD Kalimantan Timur bernama Yoga dan JAD Sumatera Barat bernama Novendri. (aud/jbr)